Connect with us

By Company

Tingkat Utilisasi Kapal Wintermar Offshore Naik Menjadi 65% Pada Akhir Juli 2018

Published

on

Grafik-Utilisasi-Kapal-Wintermar-Offshore

Indoseafarers.comPublic Expose Update tertanggal 28th August 2018 dari situs resmi PT. Wintermar Offshore Marine Tbk melaporkan bahwa tingkat utilisasi kapal Wintermar Offshore kembali naik menjadi 65% pada akhir Juli didukung oleh tingkat utilisasi Kapal High Tier yang mencapai 90%, sementara tambahan kontrak baru telah mendorong nilai kontrak yang dimiliki menjadi US$77juta pada akhir Juli dari US$69 juta pada akhir Juni 2018.

Sejak kuartal kedua 2018, telah lebih banyak kontrak dimulai, yang mendongkrak tingkat utilisasi armada, khususnya Mid dan High Tier. Rata-rata utilisasi armada hingga July 2018 tercatat 65%, dibandingkan 64% yang dicapai pada akhir kuartal kedua 2018.

Beberapa perpanjangan kontrak untuk satu atau dua tahun kedepan telah dilakukan pada bulan Juli, sementara ada juga beberapa tambahan kontrak baru yang didapat sehingga meningkatkan jumlah kontrak yang dimiliki menjadi sebesar US$77juta pada akhir Juli 2018 dibandingkan US$69juta pada akhir bulan sebelumnya.

Grafik-Kontrak-Kapal-Wintermar-Offshore

Grafik Kontrak Kapal Wintermar Offshore

Strategi Perusahaan dalam menurunkan tingkat hutang, mendorong rasio pembiayaan bersih ke level 34% pada akhir Juli 2018 dibandingkan 50% pada awal tahun. Hal ini akan memperbaiki arus kas perusahaan dimasa mendatang dan memberi Perusahaan keleluasaan dalam membuat keputusan strategis.

Prospek Industri “Offshore Support Vessels (OSV)”

Secara global, saat ini terdapat lebih banyak proyek hulu migas yang telah dimulai. Harga minyak tetap kuat dikarenakan kekhawatiran perang dagang antara China dan Amerika Serikat sebagaimana isu-isu politik membatasi pasokan dari Venezuela dan Iran. Tarif sewa kapal di Laut Utara telah mulai menguat.

Di Asia, sudah ada perbaikan berkelanjutan pada utilisasi Rig yang ditunjukkan pada grafik dibawah. Namun, dikarenakan masih banyaknya kapasitas tersedia yang ditawarkan oleh Armada Lepas Pantai Asia, tetapi tarif sewa masih tetap lebih rendah dari yang diharapkan, walaupun titik terendah telah terlewati.

Di Indonesia, terjadi penundaan sampai akhir tahun 2018 dari beberapa kontrak jangka waktu lebih panjang yang sebelumnya diharapkan mulai di awal tahun ini. Ketika proyek-proyek ini dimulai pada awal tahun depan, kondisi penawaran yang berlebih akan berbalik, sehingga optimisme meningkatnya tarif sewa dapat terwujud tahun depan.

Prospek Industri “Offshore Support Vessels (OSV)”

Grafik-Prospek-Kapal-OSV-di-Asia

Grafik Prospek Kapal OSV di Asia

Dia hanyalah seorang Pelaut yang juga masih aktif berlayar hingga saat ini. Hobinya yang gemar menulis dan membaca berita-berita terbaru, terupdate serta terhangat seputar Pelaut membuatnya memiliki ide untuk membuat situs ini bersama beberapa temannya.

By Company

Vallianz Holdings Limited Melihat Profit Perusahaan Terus Naik

Published

on

Vallianz-Holdings-Limited-Profit

Indoseafarer.com – Pendapatan bersih atau profit perusahaan offshore Vallianz holdings Limited pada kuartal kedua yang berakhir pada 30 September 2017 naik menjadi 5.3 juta US Dolar dari sebelumnya pada kuartal yang sama di tahun 2016 hanya 0.9 juta US Dolar.

Kenaikan profit Vallianz menurut CEO perusahaan, Ling Yong Wah, profit ini merupakan kenaikan yang sangat signifikan dimana sebelumnya perusahaan sempat goyah akibat pengaruh harga minyak dunia rendah.

Press Release resmi Vallianz tentang pendapatan bersih perusahaan dapat dilihat disini: http://vallianz.listedcompany.com/newsroom/20171106_192946_NULL_P3TMN7UNMYFQ5R33.1.pdf

Profit Vallianz Holdings Limited

Profit Vallianz Holdings Limited

Meskipun utilisasi kapal rendah selain kapal yang sedang beroperasi di wilayah Timur Tengah, namun kapal lain yang sedang beroperasi di wilayah timur tengah dengan kontrak jangka panjang dapat memberikan kontribusi pendapatan bagi perusahaan, selain itu juga kontrak yang sedang berlangsung merupakan kontrak panjang serta adanya beberapa kontrak baru lainnya.

CEO Vallianz Mr. Ling manambahkan bahwa, memang pasar minyak dunia telah menunjukan tanda awal pemulihan, namun sektor OSV (Offshore Support Vessel) yang ada saat ini masih tetap terlalu banyak, hal ini tentu akan menekan laju penggunaan kapal perusahaan dan juga kontrak-kontrak baru. Namun, terlepas dari latar belakang bisnis yang menantang ini, Vallianz telah melihat peningkatan kinerja operasional kuartal demi kuartal sejak September 2016.

Ini membuktikan “model bisnis tangguh” perusahaan yang berfokus pada kontrak kapal jangka panjang bersama perusahaan minyak nasional. “Ini juga merupakan bukti bahwa operasi kami di Timur Tengah dan upaya restrukturisasi terpadu berjalan dengan baik,” lanjut Ling.

Sebagai salah satu pemain OSV terbesar di Timur Tengah, Vallianz Holdings Limited yakin dapat memanfaatkan peluang bisnis dengan baik di wilayah tersebut.

“Kami terus berupaya meningkatkan daya saing kami di industri OSV melalui diferensiasi layanan dan armada kapal kami,” katanya.

Selain kontrak panjang yang sedang dijalani di wilayah Timur Tengah, perusahaan juga berencana untuk lebih fokus di masa depan untuk mendapatkan kontrak-kontrak lain di wilayah lain, seperti Asia Tengah.

Sebagai informasi, harga minyak dunia saat ini semakin membaik. Ini merupakan berita baik bagi dunia offshore terutama pelaut yang bekerja di kapal-kapal offshore. Harga minyak saat berita ini diturtunkan berada pada 63.56 USD/bbl untuk Brent Crude (ICE), sedangkan WTI Crude Oil (Nymex) berada di angka 56.96 USD/bbl.

Continue Reading

By Company

ConocoPhillips Raih Profit Pada Harga Minyak Mentah Yang Lebih Tinggi

Published

on

Conoco-Phillips
ConocoPhillips Kembali Meraih Profit Pada Harga Minyak Mentah Yang Lebih Tinggi

Indoseafarers.com – ConocoPhillips, perusahaan minyak dan gas yang berbasis di Amerika Serikat kembali memperoleh keuntungan pada kuartal ketiga 2017 dari kenaikan harga minyak mentah. Namun demikian, ConocoPhillips tetap memutuskan untuk mengurangi anggaran modal selama tahun ini.

Melalui situs resminya, ConocoPhillips melaporkan pendapatan kuartal ketiga tahun ini sebesar $420 juta dibandingkan dengan kuartal ketiga di tahun 2016 perusahaan merugi sebesar $1.04 Miliar.

Tidak termasuk spesial items, pendapatan disesuaikan kuartal ketiga 2017 adalah $0,2 miliar dibandingkan dengan kerugian kuartal keempat 2016 yang disesuaikan sebesar $0,8 miliar.

News Release ConocoPhillips dapat dilihat disini: News Release.

Menurut perusahaan, pendapatan meningkat karena realisasi harga yang lebih tinggi, pengurangan atau pemangkasan biaya, biaya eksplorasi yang lebih rendah, dampak dari disposisi serta tidak adanya dampak item khusus dari perubahan fungsional mata uang pajak di APLNG serta biaya restrukturisasi.

Total harga realisasi perusahaan adalah $39,49 per barrel of oil equivalent (BOE), dibandingkan dengan $29.78 per BOE pada kuartal ketiga tahun 2016, yang mencerminkan tingkat realisasi rata-rata yang lebih tinggi di semua komoditas.

Ryan Lance, chairman dan chief executive officer, mengatakan: “Meskipun prospek harga komoditas telah meningkat, kami tetap berkomitmen terhadap strategi disiplin kami. Kami berfokus pada arus-arus kas bebas, keuntungan finansial yang kuat, penciptaan nilai pemegang saham dan distribusi melalui siklus. ”

Hasil kuartal ketiga 2017 ini tidak termasuk Libya dimana 1.202 ribu barrels of oil equivalent per day (MBOED), turun 355 MBOED dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Tidak termasuk dampak volume kuartal ketiga dari disposisi tertutup dan ditandatangani sebesar 58 MBOED pada tahun 2017 dan 429 MBOED pada tahun 2016, pada dasarnya produksi meningkat 16 MBOED, atau 1,4 persen.

Produksi perusahaan meningkat dari peningkatan beberapa proyek besar serta beberapa multi program pengembangan, yang lebih dari mengimbangi penurunan normal lapangan kerja serta waktu henti saat badai.

Prediksi perusahaan untuk produksi pada kuartal keempat atau dalam setahun penuh 2017 adalah masing-masing di 1,195 hingga 1,235 MBOED dan 1,350 to 1,360 MBOED.

Sedangkan modal belanja telah diturunkan menjadi $4,5 miliar, penurunan ini adalah pengurangan 10 persen dari panduan awal.

Perusahaan berharap dapat mengurangi hutang perusahaan sehingga menjadi kurang dari $20 miliar pada akhir tahun 2017, disisi lain Conoco juga mengharapkan dapat membeli kembali saham perusahaan dalam setahun penuh sebesar $3 miliar, mempercepat kinerja pada basis saham yang disesuaikan dengan hutang perusahaan.

Continue Reading

By Company

Chevron Indonesia lepas 25% Saham di Blok Laut Natuna Selatan B (SNSB)

Published

on

Chevron Indonesia lepas 25% Saham di Blok Laut Natuna Selatan B (SNSB)
Chevron Indonesia lepas 25% Saham di Blok Laut Natuna Selatan B (SNSB)

Indoseafarers.comChevron Indonesia telah memutuskan untuk melepas 25% saham (hak partisipasi) di Blok Laut Natuna Selatan B (SNSB). Dengan demikian saat ini, PT Medco Energi Internasional Tbk adalah satu-satunya sebagai operator pengembang blok tersebut.

Namun Chevron Indonesia belum mengungkapkan siapa yang akan membeli saham tersebut, Chevron hanya memberi penjelasan tentang perusahaan akan menawarkan pekerjaan mereka di blok tersebut bari pihak ketiga yang tertarik.

Sebagai informasi, Blok Laut Natuna Selatan B (SNSB) pada semester pertama tahun ini mampu memproduksi 60.000 barel per hari (boepd) dan saat ini Medco Energi Internasional sedang mengebor sumur ketiga dan keempat.

Tahun lalu, Medco Energi menjadi operator blok tersebut setelah mengakuisisi 40% saham ConocoPhillips Indonesia Inc. Ltd. (CIIL) dan ConocoPhillips Singapore Operations Pte. Ltd. (CSOP), kedua anak perusahaan dari ConocoPhillips (COP).

CIIL sebelumnya adalah pemegang saham blok SNSB dengan sebesar 40% working interest dan juga sebagai penyelenggara Sistem Transportasi Natuna Barat (WNTS).

Sedangkan CSOP sebelumnya mengoperasikan Onshore Receiving Facility (ORF) yang berada di Singapura. Selain itu CSOP juga mengelola infrastruktur WNTS bersama dengan Malaysia pipeline, yang mana akan terus menjadi titik fokus untuk komersialisasi penemuan yang ada dan kegiatan eksplorasi yang sedang berlangsung di wilayah Natuna.

Pada bulan Maret tahun ini, Medco kemudian selanjutnya mengakuisisi 35% saham SNSB dari Inpex Corporation sehingga membuat Medco menguasai 25% saham di blok SNSB.

Akuisisi blok SNSB telah memungkinkan Medco untuk mendapatkan akses ke operasi minyak dan gas lepas pantai kelas dunia yang terintegrasi serta memperkuat posisinya sebagai perusahaan energi dan sumber daya alam independen utama di Indonesia.

Sekilas tentang perusahaan-perusahaan diatas, Chevron Indonesia (dahulu bernama Unocal Indonesia) adalah sebuah perusahaan minyak dan gas di Indonesia. Pergantian nama perusahaan berlaku setelah disetujuinya dilakukan merger dengan Chevron pada rapat pemegang saham Unocal Corporation tanggal 10 Agustus 2005. Chevron Indonesia Company, atau CICo, adalah satu dari beberapa perusahaan dari Chevron IndoAsia Business Unit.

Sebagai Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) BPMIGAS, Chevron Indonesia memproduksi migas sebagian besar dari lepas pantai Kutai yang berada di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Chevron IndoAsia Business Unit mencakup bisnis Minyak dan Gas yang terdiri dari CICo, Chevron Pacific Indonesia, Chevron Makassar Ltd, dan bisnis Panas Bumi yang terdiri dari Chevron Geothermal Indonesia, Chevron Geothermal Salak, Mandau Cipta Tenaga Nusantara, dan Chevron Geothermal Phillipines.


PT Medco Energi Internasional Tbk, kadang dikenal sebagai MedcoEnergi (IDX: MEDC), adalah perusahaan publik di Indonesia yang bergerak dalam bidang energi terintegrasi. Perusahaan ini bermula dari sebuah perusahaan kontraktor pertikelir di bidang jasa pengeboran minyak dan gas bumi di daratan (onshore drilling), Meta Epsi Pribumi Drilling Co, yang didirikan Arifin Panigoro pada tanggal 9 Juni 1980.

Bidang Usaha MedcoEnergi termasuk dalam bidang eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi, industri hilir: produksi LPG, distribusi bahan bakar disel dan pembangkit tenaga listrik. Saat ini MedcoEnergi beroperasi di 10 wilayah kerja minyak dan gas di Indonesia dan operasi internasional di Oman, Yaman, Libya dan Amerika Serikat.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Offshore News

Offshore Vessel

Featured News