Connect with us

Life At Sea

Regulasi Baru IMO Tentang Enclosed Space Telah Berlaku Per 1 July 2016

Published

on

Enclosed-Space

Indoseafarers.com – Enclosed space adalah ruang tertutup atau ruang terbatas dimana tidak terdapat ventilasi secara terus menerus sehingga udara dalam ruang tersebut pun terbatas dan juga dapat berbahaya bagi jiwa manusia yang masuk kedalamnya. Hal ini disebabkan karena ruangan tersebut bisa saja mengandung gas hydrocarbon,  gas yang mudah terbakar dan atau beracun, sehingga menghadirkan risiko bagi kehidupan.

IMO, pada tanggal 1 July 2016 lalu mulai memberlakukan regulasi baru yang berkaitan dengan Enclosed space. Regulasi baru bertujuan untuk melindungi para pelaut apabila ada pekerjaan di ruang tertutup. Regulasi baru XI-1/7 Atmosphere testing instrument untuk enclosed space di International Convention for the Safety of Life at Sea (SOLAS) mengharuskan setiap kapal harus memiliki alat uji portabel standar atau sebuah instrumen, minimal yang mampu dapat mengukur konsentrasi oksigen, gas yang mudah terbakar atau uap, hidrogen sulfida dan karbon monoksida, sebelum masuk ke ruang tertutup.

Regulasi enclosed space mengkover ruangan-ruangan seperti : cargo spaces, double bottoms, fuel tanks, ballast tanks, cargo pump-rooms, cofferdams, chain lockers, void spaces, duct keels, inter-barrier spaces, boilers, engine crankcases, engine scavenge air receivers, sewage tanks, namun tidak menutup kemungkinan dapat berlaku pada ruangan-ruangan yang disebutkan diatas, setiap kapal harus mengidentifikasikan sebuah ruangan tertentu apabila ada pekerjaan di dalamnya.

Ketentuan yang sama juga berlaku untuk unit pengeboran lepas pantai (offshore) dibawah amendments to the Code for the Construction and Equipment of Mobile Offshore Drilling Units (1979, 1989 and 2009 MODU Codes).

Pedoman untuk memilih dan memfasilitasi alat uji portabel di setiap kapal yang sesuai dengan regulasi IMO tentang Enclosed space yang dipersyaratkan oleh SOLAS XI-1/7 (MSC.1/Circ.1477) telah disepakati bersama.

IMO – the International Maritime Organization – is the United Nations specialized agency with responsibility for the safety and security of shipping and the prevention of marine pollution by ships.

Source: Imo.org

Dia hanyalah seorang Pelaut yang juga masih aktif berlayar hingga saat ini. Hobinya yang gemar menulis dan membaca berita-berita terbaru, terupdate serta terhangat seputar Pelaut membuatnya memiliki ide untuk membuat situs ini bersama beberapa temannya.

Life At Sea

Staf Ahli Menko Polhukam: Kemampuan Bela Diri Pelaut Indonesia Perlu Disiapkan

Published

on

4-Pelaut-yang-bebas-dari-peyanderaan-Abu-Sayyaf

Indoseafarers.com – Staf Ahli Menko Polhukam bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman Laksamana Muda Surya Wiranto: kemampuan bela diri para pelaut atau ABK kapal juga perlu disiapkan.

Untuk kesekian kalinya pelaut Indonesia kembali disandera, ini menunjukkan bahwa negara kita telah dilecehkan dan kewibawaan Indonesia sepertinya tak diperhitungkan. Warga Negara Indonesia (WNI) sepertinya jadi sasaran empuk bagi kelompok militan bersenjata. Bagaimana tidak? Tercatat sudah empat kali sejak awal tahun 2016 peristiwa penyanderaan kepada pelaut Indonesia/WNI telah terjadi.

Staf Ahli Menko Polhukam bidang Kedaulatan Wilayah dan Kemaritiman Laksamana Muda Surya Wiranto berpendapat bahwa kondisi pelayaran Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Pelaut Indonesia sudah berada pada kondisi krisis dan harus diperkuat.

Menurut Surya, pemerintah harusnya lebih serius menangani kasus penculikan terhadap pelaut atau WNI atau mungkin bahkan membekali para pelaut ABK kapal dengan kemampuan membela diri dan latihan dasar kemiliteran yang baik agar mereka bisa bertahan jika sewaktu-waktu menghadapi perompak di tengah laut.

“Saya melihat beberapa peristiwa penyanderaan menunjukkan bahwa kemampuan bela diri para pelaut atau ABK kapal juga perlu disiapkan,” ujar Surya di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (13/7/2016).

Tentang kewibawaan Indonesia, Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari juga menilai hal yang sama. Abdul Kharis Almasyhari menilai penyanderaan WNI yang sudah kesekian kalinya menunjukkan bahwa negara telah dilecehkan dan kewibawaan Indonesia tak diperhitungkan.

“Komisi I prihatin sekali dengan penculikan keempat dan mereka tidak menghitung kita. Kalau kita disegani, tidak mungkin ada pihak yang berani menculik warga negara Indonesia,” tutur Abdul saat dihubungi, Senin (11/7/2016).

Abdul menilai, diplomasi yang dilakukan pemerintah Indonesia masih belum efektif mengingat masalah penyanderaan masih terjadi.

Pembekalan bela diri yang dimaksudkan Laksamana Muda Surya Wiranto adalah hanya program pelatihan dasar kemiliteran, ini dimaksudkan agar Pelaut tidak terus menerus dijadikan sandera perompak dan tidak menjadi sasaran empuk kelompok militan karena setidaknya sudah dibekali cara menangkal dan melawan perompak.

Ketiga WNI yang terakhir disandera di perairan Felda Sahabat 16 Lahad Datu, Sabah, Malaysia, berasal dari Nusa Tenggara Timur. Diidentifikasi sebagai Lorens Koten (34 tahun) , Teo Dores Kopong (40 tahun) dan Emanuel (46 tahun).

(Baca juga: 3 Pelaut Indonesia Kembali Diculik di Perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia)

Surya Wiranto juga menambahkan: selain itu, peranan para pelaut yang dilatih kemiliteran ini sangat penting untuk membantu TNI dalam mempertahankan kedaulatan negara di wilayah perairan.

Disisi lain, panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan bahwa tiga WNI itu disandera oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina. Sebelum penyanderaan tiga WNI, tujuh anak buah kapal (ABK) WNI lebih dulu disandera kelompok Abu Sayyaf di perairan Sulu, Filipina Selatan.

Penyanderaan itu terjadi pada Senin (20/6/2016). Selain membajak kapal, penyandera meminta tebusan sebesar Rp 60 miliar.

(Baca juga: MENLU: Penyanderaan ABK TB Charles 00 dan Kapal Tongkang Robby 152 Terjadi di Laut Sulu, Filipina Selatan)

Soal pembekalan bela diri kepada pelaut, Surya menambahkan bahwa Indonesia harus belajar seperti China, saat ini banyak ABK kapal nelayan China yang dilatih kemiliteran sebagai komponen pendukung bersama dengan Coast Guard dalam menjaga wilayah perairan nime dashed lines yang di klaim oleh China.

“Lihat saja perompakan yang sering dialami oleh para pelaut Indonesia. Seolah para pelaut tidak berdaya menghadapi perompak, padahal sudah sewajarnya kalau mereka dilatih kemiliteran, ditingkatkan jiwa militannya untuk mempertahankan kedaulatan negara termasuk kapal dan keselamatan dirinya sendiri,” ungkap dia.

Indonesia, dalam mengatasi kasus penyanderaan seperti ini seharusnya tidak bisa melakukan usaha penyelamatan secara instan, namun perlu membangun diplomasi luar negeri yang semakin baik agar posisi Indonesia lebih diperhitungkan di mata internasional.

Disamping itu, beberapa kasus penyanderaan WNI yang telah terjadi, seharusnya menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah serta solusi apa yang harus diterapkan dan bukan diarahkan pada pemberian tebusan kepada pihak perompak.

Continue Reading

Featured

IMO: Masih Banyak Wanita Dibutuhkan di Laut

Published

on

IMO-Logo

Indoseafarers.comIMO: Masih Banyak Wanita Dibutuhkan di Laut.

Kepala otoritas maritim dan kepala Organisasi Serikat Nations – International Maritime Organization (IMO) mengatakan bahwa wanita saat ini : untapped atau “belum termanfaatkan” secara maksimal di sektor laut. Hal ini disampaikan pada hari Sabtu (25/06/2016) dalam acara memperingati hari Pelaut sedunia, Day Of The Seafarers 2016.

International Maritime Organization (IMO) sendiri mendorong untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam industri pelayaran yang saat ini masih didominasi oleh laki-laki.

Sekretaris Jenderal IMO Kitack Lim mengatakan:

“The importance of women as a future source of (seafaring) human resources cannot be overstressed,”

Tanggal 25 Juni telah dipilih oleh badan khusus PBB untuk mempromosikan “aman, keamanan, ramah lingkungan, efisiensi, kelanjutan shipping melalui kerjasama” yang disuarakan melalui Konvensi Manila yang diadakan pada tahun 2010 diInternational Convention Center, Filipina.

Menurut data survey, wanita yang tergabung dalam dunia pelayaran tergolong masih sangat kecil, hanya 2% tenaga kerja maritim yang ada di dunia.

Lim mengatakan perusahaan pelayaran tidak bisa/boleh mengabaikan kekayaan dan kualitas Sumber Daya Manusia wanita dengan merekrut mereka bekerja sebagai Anak Buah Kapal di perusahaan-perusahaan pelayaran di dunia.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Offshore News

Offshore Vessel

Featured News