Produksi Minyak Mentah Crude, harga minyak dunia

Produksi Minyak Mentah Indonesia Lebih Rendah Dari Target

Indoseafarers.com – Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilansir pada Jumat (6/10/2017) menunjukan bahwa produksi minyak mentah dan gas Indonesia tidak dapat mencapai target yang ditetapkan.

Dari data, produksi minyak nasional per Rabu (4/10/2017) berada di level 780.942 barel per hari (bph), realisasi produksi rata-rata setiap bulan capai 784.395 bph atau lebih rendah dari rata-rata produksi tahunan yakni 805.451 bph.

Pada 5 oktober 2017, produksi minyak Indonesia mencapai 812.083 barel per hari yakni lebih rendah dari yang ditetapkan di APBN pada level 815.000 bph.

Untuk produksi gas alam, produksi gas nasional mencapai 7.907 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) dan produksi bulanan mencapai 7.737 MMSCFD.

Penyebab produksi Indonesia turun terus-menerus karena sebagian besar ladang minyak negara tersebut sudah menua dengan penemuan sumur baru yang terbatas.

Kementerian energi mencoba untuk meningkatkan eksplorasi termasuk merevisi kontrak bagi hasil (production sharing contract / PSC) berdasarkan skema gross split, dan bukan pemulihan biaya PSC.

Beberapa Penyebab produksi Minyak Mentah Nasional Menurun

Produksi Minyak Mentah Indonesia diproyeksikan tak capai target pada tahun 2017 ini karena beberapa faktor, faktor-faktor yang ada ini saling berkontrobusi yang menyebabkab produksi terus-menerus menurun.

Faktor pertama adalah menuanya sumur-sumur produksi yang ada sehingga hasil yang digali dari sumur-sumur tersebut tidak maksimal. Seiring dengan menuanya sumur produksi, penemuan sumur-sumur baru masih terbatas sehingga belum mampu menambah jumlah produksi minyak mentah per barel per harinya. Selain itu faktor penurunan penyerapan dari konsumen juga terjadi. Seperti contoh misalnya di Blok JOB Jambi Merang, produksi minyak mentah turun 0,2 mbph dan produksi gas 12 MMscfd karena menurunnya penyerapan dari pembeli. Begitu pula pada Mubadala Petroleum yang menurunkan produksi minyak sebesar 0,1 mbph dan gas 80 MMscfd.

Faktor kedua adalah sumur-sumur minyak yang dimatikan secara terencana (planned shutdown) maupun tiba-tiba (unplanned shutdown). planned shutdown dilakukan oleh kontraktor Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) yang mengakibatkan turunnya produksi minyak 10 mbph (ribu bph) dan gas 48 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd). Sumur produksi ini ditutup sampai dengan 8 Oktober kemarin dan telah dibuka kembali. Penundaan produksi juga dilakukan oleh beberapa kontraktor Star Energy dengan penurunan produksi minyak 0,5 mbph dan gas 4 MMscfd. Kegiatan dilakukan hingga 31 Oktober dengan mematikan sumur selama enam jam untuk pekerjaan riser reinstatement. Planned shutdown juga dilakukan PHE West Madura Offshore untuk kegiatan perawatan sumur akibatnya produksi menurun 0,2 mbph.

Sementara unplanned shutdown dilakukan PHE ONWJ karena kebocoran di empat sumur sehingga produksi minyak turun 1 mbph dan gas 4 MMscfd. Selain PHE ONWJ, Chevron Pacific Indonesia juga melakukan unplanned shutdown di Sumur Kokoh pada 4 Oktober sehingga produksi minyak turun 1,1 mbph. Dan yang terakhir adalah kontraktor Santos Madura Offshore yang melakukan unplanned shutdown pada 22 September dan telah beroperasi kembali pada 4 Oktober. Akibatnya, produksi gas turun hingga 15 MMscfd. Selain fator diatas, ada juga faktor lain yang menyebabkan turunnya produksi minyak mentah nasional seperti adanya kendala operasi di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *