Connect with us

Featured

Persyaratan Diklat Pelaut ANT V dan ATT V di BP3IP

Published

on

Indoseafarers.com – Dibawah ini adalah Persyaratan mengikuti diklat Pelaut ANT V dan ATT V di BP3IP Jakarta.

Persyaratan Untuk Mengikuti Diklat Pelaut ANT V

  1. Fotocopy ijazah STCW 1978 Amandemen 2010 yang  di legalisir asli (3 lembar)
  2. Fotocopy ijazah versi STCW 1978 Amandemen 1995 ANT-Dasar yang telah dilegalisir minimal 1 tahun sebelumnya (3 lembar)
  3. Fotocopy Sertifikat Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan (SPPK) sesuai sertifikat yang dimiliki ( 3 lembar).
  4. Surat kenal lahir / Akte Kelahiran (1 lembar)
  5. KTP atau tanda bukti diri lainnya yang sah ( 1 lembar)
  6. Memiliki masa layar yang diakui tidak kurang dari 24 bulan sebagai AB dek (Able Seafarer Deck/ABD) di kapal dengan ukuran GT.500 atau lebih (asli & foto copy 2 lembar)
  7. Memiliki surat keterangan bebas narkoba dari dokter
  8. Foto copy ijasah umum minimal SLTP/SLTA (3 lembar)
  9. Surat keterangan sehat mata dan telinga  oleh dokter yang ditunjuk BP3IP serta melampirkan pas photo ukuran 4×6 sebanyak (2 lembar)
  10. Berbadan sehat dengan surat keterangan kesehatan dari dokter (di BP3IP).
  11. Bagi calon peserta yang berasal dari pegawai pemerintah (PNS,TNI,POLRI,BUMN) wajib menyerahkan surat ijin belajar dari instasi masing-masing. ( 3 lembar)
  12. Foto Copy  sertifikat ketrampilan pelaut  (masing-masing 3 lembar)
  13. Melampirkan print out data pribadi dari www.pelaut.dephub.go.id
  14. Menunjukan semua dokumen asli kepelautan dan umum pada saat wawancara.
  15. Sertifikat Profisiensi : BST , SCRB , A F F , MFA , S.A .

Durasi Diklat selama 4 bulan

  • Biaya Formulir Rp. 150.000,-
  • Biaya Kesehatan Rp. 230.000,-
  • Biaya Diklat Rp. 10.800.000,-

Note: Untuk Update Persyaratan dan Biaya Diklat bisa lihat langsung di situs resmi BP3IP disini.

Persyaratan Untuk Mengikuti Diklat Pelaut ATT V

  1. Fotocopy ijazah STCW 1978 Amandemen 2010 yang  di legalisir asli (3 lembar)
  2. Fotocopy ijazah versi STCW 1978 AMK-PT yang telah dilegalisir minimal1 tahun sebelumnya (3 lembar)
  3. Fotocopy ijazah versi STCW 1978 Amandemen 1995 ATT- Dasar yang telah dilegalisir minimal 1 tahun sebelumnya (3 lembar)
  4. Fotocopy Sertifikat Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan (SPPK) sesuai sertifikat yang dimiliki ( 3 lembar).
  5. Surat kenal lahir / Akte Kelahiran (1 lembar)
  6. KTP atau tanda bukti diri lainnya yang sah ( 1 lembar)
  7. Masa layar yang diakui tidak kurang dari 24 bulan sebagai AB mesin (Able Seafarer Engine) di kapal dengan mesin penggerak utama 750 KW atau lebih; ( asli & copy 2 lembar)
  8. Memiliki surat keterangan bebas narkoba dari dokter
  9. Foto copy ijasah umum minimal SLTP/SLTA (3 lembar)
  10. Surat keterangan sehat mata dan telinga  oleh dokter yang ditunjuk BP3IP serta melampirkan pas photo ukuran 4×6 sebanyak 2 lembar.
  11. Berbadan sehat dengan surat keterangan kesehatan dari dokter (di BP3IP).
  12. Bagi calon peserta yang berasal dari pegawai pemerintah (PNS,TNI,POLRI,BUMN) wajib menyerahkan surat ijin belajar dari instasi masing-masing. ( 3 lembar)
  13. Foto Copy  sertifikat ketrampilan pelaut  (masing-masing 3 lembar)
  14. Melampirkan print out data pribadi dari www.pelaut.dephub.go.id
  15. Menunjukan semua dokumen asli kepelautan dan umum pada saat wawancara.
  16. Sertifikat Profisiensi : BST , SCRB , A F F , MEFA , AS .

Durasi Diklat selama 4 bulan

  • Biaya Formulir Rp. 150.000,-
  • Biaya Kesehatan Rp. 230.000,-
  • Biaya Diklat Rp. 10.800.000,-

Note: Untuk Update Persyaratan dan Biaya Diklat bisa lihat langsung di situs resmi BP3IP disini.

Dia hanyalah seorang Pelaut yang juga masih aktif berlayar hingga saat ini. Hobinya yang gemar menulis dan membaca berita-berita terbaru, terupdate serta terhangat seputar Pelaut membuatnya memiliki ide untuk membuat situs ini bersama beberapa temannya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Breaking News

Implementasi Biodiesel B30 Resmi Sejak 23 Desember 2019

Published

on

Biodiesel B20, Biodiesel B30

Indoseafarers.com -- Program Biodiesel B30 sudah diresmikan penerapannya oleh Presiden Joko Widodo di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO  3112802 di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, pada Senin, 23 Desember 2019.

Tahukah kamu bahwa Indonesia masih bergantung pada energi berbasis Fosil? Ya, bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam masih menjadi sumber energi yang dominan di negeri ini.

Lalu bagaimana dengan persediaan energi fosil yang selama ini kita gunakan? Energi ini kian hari semakin berkurang, dan diperkirakan akan habis di tahun 2025.

Negara kita sedang dalam krisis energi, kebutuhan minyak mentah dalam negeri mencapai hingga 1,8 juta barel per harinya, sedangkan di tahun 2019, menurut data dari Trading Economics, produksi minyak bumi Indonesia berada pada angka 659 ribu bph (barel per hari). Ini berarti Indonesia harus mengimpor kekurangan kebutuhan per hari sebesar 1,1 juta barel.

Baca: Mengenal Biodiesel B20 Untuk Mesin Diesel di Kapal
Video: Ini Fakta-Fakta Tentang Biodiesel B20

Pertumbuhan konsumsi bahan bakar untuk minyak jenis solar tiap tahunnya meningkat sebesar 5 persen.

Konsumsi solar berdasarkan data Badan Pengelola Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pada tahun 2019 sepanjang bulan januari mencapai 7,56 juta kiloliter (KL) atau 52 persen dari kuota yang ditetapkan.

Dengan kondisi seperti ini, tentunya akan menghambat pembangunan di Indonesia. Jika demikian akankah Indonesia terus bertahan dengan bahan bakar Fosil? Dimana jumlah penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun dan pertumbuhan ekonomi yang tentunya harus terus meningkat dan sejalan dengan kebutuhan energi Indonesia?

Negara kita tentunya perlu strategi yang tepat dan cepat untuk menanggulangi krisis energi yang memadai dan berkelanjutan.

Sebenarnya, potensi energi terbarukan di Indonesia tersebar di seluruh wilayah, terdapat beragam sumber daya energi yang dapat menjadi solusi ketahanan energi nasional, sumber daya alam terbarukan.

Ya, salah satunya adalah Biodiesel. Biodiesel dihasilkan dari bioenergi yang didapat dari organisme biologis atau bahan organik. Secara umum, bioenergi menghasilkan tiga jenis sumber energi, yaitu: biofuel (biodiesel, bioetanol), biogas, dan biomassa padat (serpihan kayu, biobriket serta residu pertanian). Bioenergi menghasilkan listrik, bahan bakar transportasi serta panas. Bioenergi inilah yang diharapkan dapat menggantikan sumber energi fosil yang merupakan sumber energi yang tidak terbarukan.

Setelah sukses dengan Biodiesel B20, Presiden Joko Widodo pada Senin (23/12/2019) telah meresmikan implementasi program biodiesel 30 persen ( B30) di salah satu SPBU yang ada di Jakarta. Biodiesel B30 merupakan Implementasi B30 Pertama di Dunia. Setelah ujicoba menggunakan berbagai jenis kendaraan besar maupun super besar dengan puluhan ribu kilometer jarak yang ditempuh hasilnya sangat memuaskan.

Berikut hasil ujicoba kendaraan yang menggunakan Biodiesel B30 yang dikutip dari kementerian ESDM:

  • 1. Persentase perubahan daya/power, konsumsi bahan bakar, pelumas, dan emisi gas buang relatif sama antara bahan bakar B20 dan B30 terhadap jarak tempuh kendaraan bermesin diesel;
  • 2. Opasitas gas buang kendaraan pada penggunaan bahan bakar B30 masih berada di bawah ambang batas ukur dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan;
  • 3. Kendaraan berbahan bakar B0, B30 (MG Biodiesel 0.4%) dan B30 (MG Biodiesel 0.55%) dengan waktu soaking (didiamkan) selama 3, 7, 14, dan 21 hari dapat dinyalakan normal dengan waktu penyalaan sekitar 1 detik;
  • 4. Kendaraan baru atau yang sebelumnya tidak menggunakan biodiesel cenderung mengalami penggantian filter bahan bakar lebih cepat di awal penggunaan B30 karena efek blocking, namun sesudahnya kembali normal.

Bagaimana dengan Spesifikasi Biodieseil B30 yang harus dipenuhi? Diambil dari situs resmi Kemeterian ESDM, pemerintah menetapkan pula standar dan mutu (spesifikasi) dalam pelaksanaan uji coba B30 berdasar SNI 7182: 2015, antara lain:

  • 1. Massa jenis pada 40 derajat celcius harus memiliki 850 -- 890 Kg/m3
  • 2. Viskositas kinematik pada 40 derajat celcius harus memiliki 2,3 -- 6,0 mm2/s (cSt)
  • 3. Angka Setana menimal 51
  • 4. Titik nyala (mangkok tertutup) memiliki minimal 130 derajat celcius
  • 5. Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50 derajat celcius) harus nomor satu
  • 6. Residu Karbon dalam percontoh asli memiliki maksimal 0,05 %- massa; atau dalam 10% ampas ditilasi 0,3%- massa
  • 7. Termperatur distilasi 90% maksimal 360 derajat celcius
  • 8. Abu tersulfatkan maksimal 0,02%-massa
  • 9. Belerang maksimal 10 mg/kg
  • 10. Fosfor maksimal 4 mg/kg
  • 11. Angka asam maksimal 0,4 mg-KOH/g
  • 12. Gliserol bebas maksimal 0,02%-massa
  • 13. Gliserol total maksimal 0,24%-massa
  • 14. Kadar ester metil minimal 96,5%-massa
  • 15. Angka ioudium maksimal 115%-massa (g-12/100 g)
  • 16. Kestabilan oksidasi periode induksi metode rancimat 600 menit; atau periode induksi metode petro oksi 45 menit.
  • 17. Monogliserida maksimal 0,55%-massa
  • 18. Warna maksimal 3 dengan metode uji ASTM D-1500
  • 19. Kadar air maksimal 350 ppm dengan metode uji D-6304
  • 20. CFPP (Cold FIlter Plugging Point) maksimal 15 derajat celcius dengan metode uji D-6371
  • 21. Logam I maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14108/14109, EN 14538
  • 22. Logam II maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14538
  • 23. Total Kontaminan maksimal 20 mg/liter dengan metode uji ASTM D 2276, ASTM D 5452, ASTM D 6217

Uji coba, uji performa kendaraan, monitoring serta evaluasi biodiesel B30 pada kendaraan bermesin diesel telah selesai dilakukan pada awal November 2019 lalu. Pelaksanaan mandatori B30 di tahun 2020 ini, jadi mesin diesel kapal siap-siap menggunakan bahan bakar ini.

Biodiesel bahan bakar masa depan, Implementasi B30 di Indonesia merupakan yang pertama di dunia!

Continue Reading

Articles

Marhaban Ya Ramadhan Bagi Seluruh Pelaut Indonesia

Published

on

Ramadhan-di-tengah-Pandemi-Covid-19

Indoseafarers.com -- Pertama-tama kami dari tim situs Indoseafarers ingin mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa puasa 1441 Hijriah, mohon maaf lahir dan bathin bagi seluruh Pelaut Indonesia bersama keluarga dimana saja Anda berada saat ini.

Tahun ini merupakan tahun menantang bagi dunia dan terutama bagi kita para pelaut, perusahaan pelayaran, bagi negara maupun bagi dunia. Menantang ditengah-tengah Pandemi Covid-19, harga minyak dunia terjun bebas dan bahkan hingga minus, banyak pelaut yang dipulangkan akibat kapal tidak beroperasi, dan yang paling utama adalah disaat umat muslim di seluruh dunia menjalankan bulan suci Ramadhan.

Perusahaan-perusahaan pelayaran telah ketar-ketir dimasa menyebarnya Virus Corona di seluruh dunia, kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah tentu sangat mempengaruhi perusahaan-perusahaan tersebut dan sudah tentu akan mempengaruhi juga karyawan laut atau pelaut.

Contoh sederhana di perusahaan saya sekarang, kebetulan perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan dengan kapal-kapal support untuk pekerjaan lepas pantai (Offshore), kapal AHTS, AHT, PSV maupun kapal-kapal sejenis untuk pekerjaan lepas pantai. Saat ini, kapal-kapal ditempat saya bekerja sudah mulai nongkrong alias standby akibat tidak ada project. Kurang lebih saat ini sudah ada 6 kapal yang nongkrong akibat project lepas pantai di postpone entah sampai kapan. Bahkan ada salah satu kapal yang baru saja beroperasi untuk pekerjaan di selat Makassar milik ENI harus terpaksa dihentikan. Padahal baru saja sampai di lokasi pekerjaan. Dan sebentar lagi segera menyusul kapal-kapal lain yang kebetulan saat ini sedang beroperasi namun akan selesai masa kontraknya.

Selintas kabar berita yang saya dapat, diperkirakan masa-masa sulit ini akan berlangsung hingga… paling cepat bulan Agustus namun diperkirakan bisa lebih dan yang parahnya ada isu bahwa bisa jadi sampai tahun 2021 nanti.

Media-media Internasional bahkan sudah mulai menulis masa-masa kehancuran Offshore sudah datang saat ini. Bukan hanya offshore tapi juga perusahaan-perusahaan pelayaran Internasional seperti kapal pesiar dan masih banyak lagi. Proyek-proyek lepas pantai baik di laut dangkal (Shallow water) maupun laut dalam (Deep water) sudah berhenti beroperasi. Di Facebook, situs-situs besar yang saya ikuti rata-rata membagikan berita tentang kehancuran offshore, dunia perkapalan dan shipping industry.

Terlepas dari semua ini, saat ini marilah kita memfokuskan diri untuk menjalankan ibadah puasa, melakukan amalan-amalan Allah sehingga masalah Virus corona. Semoga ibadah puasa kita dilancarkan dan keberkahan Ramadhan dilimpahkan bagi kita semua.

Marhaban Ya Ramadhan, Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1441 H / 2020 M

Tonton Video Menarik Lainnya:

Continue Reading

Featured

Mengenal Biodiesel B20 Untuk Mesin Diesel di Kapal

Published

on

By

Indoseafarers.com – Pemerintah resmi meluncurkan mandatori perluasan penggunaan bahan bakar Biodiesel B20 yang diperluas ke non-PSO (Public Service Obligation) atau kendaraan yang tak disubsidi setelah awalnya hanya untuk PSO. Kewajiban ini telah mulai berlaku sejak 1 September 2018 lalu.

Kewajiban penggunaan Biodiesel B20 tadinya hanya berlaku bagi penikmat public service obligation (PSO) seperti PLN, KAI dan sekarang diperluas untuk semua jenis mesin diesel baik kendaraan umum, mobil pribadi, industri alat berat hingga ke industri perkapalan.

Nah… ini artinya bahwa mandatori penggunaan B20 tadi berdampak juga bagi mesin diesel kapal dimana setiap mesin diesel tidak boleh lagi menggunakan bahan bakar diesel (Solar) murni namun harus menggunakan Biodiesel B20.

Banyak rumor yang beredar tentang efek yang ditimbulkan oleh jenis bahan bakar ini, diantaranya seperti akan mempengaruhi fuel oil filter cartridge atau fuel filter sehingga cepat kotor, bahwa di tangki harian bahan bakar juga akan terjadi banyak endapan jeli/kotoran. Atau rumor lain seperti kerak di tangki bahan bakar akan larut sehingga kotoran akan ikut terbawa masuk ke system bahan bakar. Rumor merusak Fuel Injention Vale/Injector, bahwa dapat merusak seal-seal engine, dan ada juga rumor-rumor lainnya.

Karena khawatir tentang rumor diatas, dan karena mesin di kapal saya akan menggunakan bahan bakar ini, maka saya coba untuk mencari informasi sebanyak mungkin tentang bahan bakar jenis Biodiesel B20 ini. Apa saja pengaruhnya terhadap part yang berada di system bahan bakar, terhadap Daily tank fuel, terhadap injector, terhadap performa engine dlsb.

Hasilnya adalah seperti rangkuman dibawah ini…

Mengenal Biodiesel B20

Biodiesel B20 adalah bahan bakar diesel campuran dengan perbandingan 20:80. 20% nya adalah minyak nabati, sedangkan 80% nya adalah Diesel/Solar (petroleum diesel). Ini artinya bahwa Biodiesel B20 tidaklah murni diesel atau Solar namun ada campuran 20% minyak nabati. Lalu… minyak nabati apa yang digunakan sebagai campurannya? Minyak nabati tersebut adalah Fatty Acid Methyl Ester (FAME). FAME ini berasal dari CPO atau minyak kelapa sawit yang banyak di produksi di Indonesia, atau bisa juga dari lemak hewan. Minyak nabati juga dapat dihasilkan dari: minyak kedelai, minyak biji kapas, minyak canola dan minyak jagung.

Sampai disini kita perjelas dulu bahwa Biodiesel B20 adalah bahan bakar yang dapat diartikan…


Secara umum dapat kita katakan bahwa Biodiesel B20 adalah bahan bakar campuran antara Diesel atau Solar dan minyak kelapa. 20% CPO dan 80% Solar.


FAME atau metil ester diproduksi melalui reaksi transesterifikasi (transesterfication) antara trigliserida (penyusun utama minyak nabati) dan methanol dengan bantuan katalis basa. Reaksi tersebut menghasilkan metil ester dan gliserol. Metil ester inilah yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Hal ini karena sifat fisik atau molekulnya mirip dengan petroleum diesel. Salah satu sumber minyak nabati atau metil ester adalah minyak kelapa sawit (CPO/palm oil) yang banyak dimiliki oleh Indonesia.

Transesterification FAME

Transesterification FAME (img credit: wikipedia)

Biodiesel

Sebagai gambaran penjelasan diatas, anda bisa melihat skema sederhana proses produksi yang telah dibuat oleh Direktorat Energi Baru, Terbarukan Dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) di bawah ini.

Skema-Proses-Produksi-Biodiesel

Skema Proses Produksi Biodiesel

Menyangkut Rumor Yang Beredar, Apakah Ada Pengaruh Biodiesel B20 Terhadap Mesin Diesel Kapal?

Sejak berlakunya mandatori ini oleh pemerintah, timbul kekhawatiran di operator dan pemilik alat angkut logistik. Karena khawatir, para pemilik kendaraan angkut berat dan kapal meminta ada pengecualian seperti yang diterima oleh truk milik Freeport di Grasberg, Tembaga Pura dan alutsista milik TNI (tank dan kapal).

Para peneliti utama B20 dari ITB menjelaskan bahwa penggunaan B20 itu akan optimal jika tangki BBM-nya dikuras dan dibersihkan sampai bersih dan kering sebelum dimasukkan B20, tujuannya adalah agar kadar air di biodiesel tidak bertambah.

Jika tangki kotor langsung diisi dengan B20, maka kotoran tangki akan terkuras karena sifat B20 yang membersihkan. Akibatnya kotoran ini akan menyumbat saringan BBM. Kondisi ini untuk menjelaskan rumor yang beredar bahwa yang menyebabkan saringan BBM cepat kotor dan harus diganti lebih dini adalah karena tangki bahan bakar yang tidak dibersihkan terlebih dahulu ketika akan beralih ke penggunaan Biodiesel B20.

Sebagai informasi bahwa penelitian terhadap jenis bahan bakar B20 ini sudah dilakukan sejak 2014 pada berbagai kendaraan termasuk truk yang mayoritas buatan Jepang, lokomotif, pabrikan mesin kapal, dan kendaraan pribadi, dan bahkan B20 sudah dijual di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) sejak tahun 2016.

Namun disisi lain, menurut para peneliti utama ITB, B20 dalam 3 bulan pertama akan terjadi bersih-bersih tangki yang kotor dan berdampak akselerasi kendaraan atau mesin akan berkurang sekitar 3%, tetapi masih tetap dalam ranah aman untuk beroperasi.

Selain itu bahwa bahan bakar ini tidak akan menyumbat injector maupun menyebabkan seal retak-retak dan atau merusak mesin seperti rumor yang beredar. Menggunakan B20 bahkan gas buang yang dihasilkan akan lebih bersih dan menunjang pengurangan emisi.

Untuk mesin diesel modern/terkini yang menggunakan injector bersystem solenoid atau Common-Rail Fuel Injection system akan lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Penggunaan Biodiesel B20 perlu pertimbangan di semua aspek seperti performa mesin, besar biaya maintenance yang akan dikeluarkan, ketahanan mesin serta aspek lain.

Commom-Rail-System-Fuel-Injection

Contoh Commom Rail System Fuel Injection

Disisi lain ada juga pendapat yang berdeda…

Menurut Bambang Sudarmanta, Kepala Laboratorium Motor Bakar dan Sistem Pembakaran Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) seperti yang dilansir di cnn.com, B20 merupakan bahan bakar pengganti yang kandungannya sudah mendekati solar. Meski begitu, B20 punya dampak lain pada mesin kendaraan diesel ketimbang solar yang menurutnya nanti akan dirasakan konsumen.

Bambang menjelaskan B20 memiliki nilai kalor lebih rendah, sekitar 8-10 persen, dibanding solar. Berdasarkan itu dikatakan daya yang dihasilkan mesin diesel menggunakan B20 bisa turun 8-10 persen dibanding solar.

“Dari sisi kalor begitu, tetapi tidak mutlak daya dihasilan dari kalor saja. Biodiesel punya kelebihan oksigen di dalamnya, itu bisa menghasilkan proses oksidasi yang lebih baik dibanding solar,” jelas Bambang.

Oksidasi yang lebih baik, lanjut Bambang, memungkinkan penggunaan B20 membuat proses pembakaran mesin menjadi lebih baik. Hasilnya bisa membuat daya mesin lebih besar.

Bambang juga mengurai dampak lain penggunaan B20, yaitu membuat ruang pembakaran lebih kotor dibanding solar. Disebutkan, B20 dikatakan memiliki viskositas (kekentalan) lebih tinggi atau lebih kental dibanding solar yang cenderung memperlambat atomisasi (proses pembakaran pada mesin). Selain itu, B20 juga dikatakan mengandung gliserin (kotoran yang tidak terbakar) lebih banyak.

“Di dalam Standar Nasional Indonesia biodiesel (SNI 7182:2015) sudah disebutkan batasannya (viskositas dan gliserin). Artinya sudah diteliti bahwa dengan kandungan itu dampak yang terjadi masih bisa diterima atau membahayakan,” ujar Bambang.

Specific Data

Specific-Data-Biodiesel

Specific Data Biodiesel

Bagaimana Pendapat Lain Untuk Mesin Diesel Yang Ada di Kapal?

Menurut pengusaha kapal, dan usaha galangan kapal, Johnson Williang Sutjipto seperti yang dilansir di beritatrans.com:

“Dapat dikatakan sudah tak menghadapi kendala sama sekali. Lancar-lancar atau baik-baik saja. Puluhan ribu kapal berbendera Indonesia lancar menggunakannya,”

Sejak awal diterapkannya penggunaan Biodiesel B20 oleh pemerintah dikabarkan memang banyak masalah terjadi seperti isu-isu tadi, namun setelah Pertamina memperbaiki kualitas biodisel antara lain mengurangi lokasi pencampuran B20 dari 81 titik ke 15 titik sehingga kontrol pencampuran menjadi lebih ketat maka pemakaian B20 menjadi lebih baik.

Mengapa Pemerintah Menerapkan Penggunaan Biodiesel B20 Ini?

Dilansir di News detik kolom: Indonesia saat ini dalam kondisi darurat energi karena terus menurunnya produksi minyak mentah dan terus naiknya kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) masyarakat. Akibatnya kebutuhan impor BBM terus meningkat. Produksi BBM rata-rata tiap bulan (data Kementerian ESDM) hanya sebesar 778.505 barrels oil per day (BOPD). Sementara, kebutuhan BBM sudah mencapai sekitar 1.600 BOPD. Jadi, untuk memenuhi kebutuhan BBM dalam negeri, Pertamina harus mengimpor lebih dari 800.000 BOPD. Jika harga ICP (minyak mentah) rata-rata per bulan 67,42 dolar AS/barel, maka dibutuhkan anggaran sekitar 1.620.000.000 dolar AS per bulan atau minimal Rp 24 triliun per bulan.

Besarnya devisa untuk impor BBM terus bertambah sejalan dengan jatuhnya nilai rupiah telah membuat pusing Menteri Keuangan. Sehingga, Presiden Joko Widodo mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas Perpres No. 61 Tahun 2015 tentang Perhimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Perpres tersebut kemudian dilengkapi dengan Permen ESDM No. 41 Tahun 2018 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (BBN) Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

Kesimpulan dan Saran

Dari rangkuman penjelasan serta pro kontra mengenai Biodiesel dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  • Biodiesel B20 adalah bahan bakar campuran antara Diesel/Solar dengan minyak nabati. Diesel 80% : Minyak nabati 20%.
  • B20 tentu akan punya dampak terhadap performa mesin diesel yakni daya yang dihasilkan akan turun sekitar 8-10 persen. Ini karena nilai kalornya lebih rendah sekitar 8-10 persen dibanding solar.
  • Disarankan jika akan beralih ke B20, tangki harian bahan bakar dan semua tangki yang akan diisi bahan bakar ini sebaiknya dibersikah hingga bersih dan kering sebelum dimasukkan B20.
  • Persiapkan spare filter fuel yang cukup untuk antisipasi sumbatnya filter bahan bakar.
  • Rajin mengecek dan drain atau buang kandungan air di tangki bahan bakar.
  • JIKA… oksidasi dari mesin lebih baik, maka memungkinkan penggunaan B20 membuat proses pembakaran mesin menjadi lebih baik. Hasilnya bisa membuat daya mesin lebih besar.
  • Penggunaan B20 dapat membuat ruang pembakaran lebih kotor dibanding solar.
  • B20 memiliki viskositas (kekentalan) lebih tinggi atau lebih kental dibanding solar yang cenderung memperlambat atomisasi (proses pembakaran pada mesin).
  • B20 mengandung banyak gliserin (kotoran yang tidak terbakar).
  • B20 untuk mesin diesel modern yang menggunakan injector bersystem solenoid atau Common-Rail Fuel Injection system akan lebih sensitif terhadap kualitas bahan bakar. Penggunaan Biodiesel B20 perlu pertimbangan di semua aspek seperti performa mesin, besar biaya maintenance yang akan dikeluarkan, ketahanan mesin serta aspek lain.
  • Standar Nasional Indonesia biodiesel adalah: SNI 7182:2015
  • BIODIESEL B20 SUDAH DITELITI DAN BAHWA DAMPAK DARI KANDUNGANNYA MASIH BISA DITERIMA DAN TIDAK MEMBAHAYAKAN.

Inilah sedikit tentang Biodiesel B20 serta penggunaannya untuk mesin diesel dikapal.

Begitulah kura-kura…
Semoga bermanfaat.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Offshore News

Offshore Vessel

Featured News