Connect with us

Marine Tech

L’Astrolabe: Kapal Pertama di Dunia Yang Memenuhi Standar Regulasi IMO Tier III EIAPP

Published

on

L'Astrolabe

Indoseafarers.comL’Astrolabe, adalah kapal pertama di dunia (kapal logistik) yang memenuhi standar IMO Tier III EIAPP (Engine International Air Pollution Prevention), yakni peraturan IMO tentang pencegahan pencemaran udara internasional. Dalam Annex VI MARPOL 73/78 mengatur pencegahan udara dari kapal. Tier III mengatur tentang mesin diesel yang terpasang diatas kapal, gas emisinya (NOx) harus memenuhi regulasi IMO.

L’Astrolabe dibangun oleh PIRIOU (Perancis) untuk digunakan oleh Administrasi French Southern dan administrasi Antarctic Lands dalam mengangkut personil dan pasokan atau cargo ke stasiun penelitian Dumont d’Urville di Antartika.

Kapal ini dibangun menggunakan mesin diesel Wärtsilä 20 dikombinasikan dengan Wärtsilä NOR systems yang secara penuh memenuhi peraturan emisi gas buang IMO Tier III yang tercantum dalam Lampiran VI konvensi MARPOL 73/78. Sertifikasi IMO Tier III EIAPP dilakukan sesuai Skema B berdasarkan persyaratan IMO Resolution MEPC.198 (62) dan sertifikat EIAPP Tier III dikeluarkan oleh Bureau Veritas.

Secara general L’Astrolabe dibangun menggunakan machinery dari Wartsila yang terdiri dari empat mesin utama (Main engine) Wartsila 20, dua pitch propeller dan shaft lines Wartsila yang dapat dikontrol termasuk roda gigi (reduction gears), Wärtsilä NOR system serta tunnel thruster.

Wartsila-NOx-Reducer

Wartsila NOx Reducer (img credit: Wartsila.com)

nor-layout-diagram

NOR System Layout Diagram (img credit: Wartsila.com)

Selective Catalytic Reduction (SCR) saat ini merupakan sarana utama untuk pengurangan kandungan NOx  di mesin, Wärtsilä’s NOR system saat ini tersedia untuk bisa digunakan pada semua tipe mesin kecepatan sedang warstila. Sistem ini memungkinkan kapal mengurangi emisi NOx guna memenuhi regulasi IMO. Wärtsilä NOR system bekerja dengan cara membersihkan atau mengoptimalkan gas buang mesin untuk mengurangi emisi bahan bakar. Selain itu, sistem ini juga dapat mengurangi kebisingan serta efisiensi terhadap mesin. Wärtsilä menyediakan sertifikat IMO dan EPA Tier III untuk mesinnya yang dikombinasikan dengan Wärtsilä NOR system.


Selective catalytic reduction (SCR) adalah alat untuk mengubah oksida nitrogen, yang juga disebut NOX dengan bantuan katalis menjadi nitrogen diatomik (N2), dan air (H2O). Suatu reduktan gas, amonia atau amida berair, ditambahkan ke aliran gas buang dan diadsorpsi Ke katalis. Karbon dioksida, CO2 adalah produk reaksi bila urea digunakan sebagai reduktan.

Contoh-SCR-System-untuk-NOx-di-Boiler

Contoh-SCR-System-untuk-NOx-di-Boiler


“Kami dengan senang hati memberikan kombinasi antara mesin diesel dan sistem SCR dalam lingkup penawaran yang sama, dan kami bertanggung jawab penuh atas emisi gas buang, kinerja, dokumentasi, persetujuan hukum serta sertifikasi. Paket yang kami tawarkan seperti ini dapat memudahkan galangan kapal dan operator kapal, dan karena dipicu oleh regulasi IMO diharapkan dapat meningkatnya galangan kapal dan pemilik kapal menggunakan sistem ini. Mesin yang digunakan harus kompatibel dengan SCR, dan SCR harus sesuai dengan tujuannya. Kami senang dapat bekerja sama dengan Chantiers Piriou, ” Juha Kytölä, Vice President, Environmental Solutions, Wärtsilä Marine Solutions mengatakan.

Dilain sisi, Vincent Faujour, CEO PIRIOU mengatakan bahwa: “Untuk jenis kapal yang beroperasi di lautan yang penuh dengan es dan cuaca yang paling menantang, pemilihan mesin harus dilakukan secara hati-hati. Kami tahu dan menghargai kemampuan Wärtsilä serta pengetahuan teknis mereka, dan kami yakin bahwa kami telah membuat pilihan terbaik untuk kapal penting ini,”

L’Astrolabe memiliki akomodasi untuk 60 orang, kapasitas kargo 1400 metrik ton, dan dilengkapi dengan helideck yang cukup besar untuk menampung dua helikopter.

 

Dia hanyalah seorang Pelaut yang juga masih aktif berlayar hingga saat ini. Hobinya yang gemar menulis dan membaca berita-berita terbaru, terupdate serta terhangat seputar Pelaut membuatnya memiliki ide untuk membuat situs ini bersama beberapa temannya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Articles

Stern Tube: Memahami Stern Tube di Kapal

Published

on

By

Indoseafarers.com – Mari berbagi… kali ini saya akan berbagi apa itu Stern Tube dan fungsi dari Stern tube itu sendiri yang ada diatas kapal. Disini bukan berarti saya lebih pandai dan tahu dari pembaca, tetapi marilah kita sama-sama belajar. Dibawah setiap berita ataupun artikel terdapat kolom komentar dimana anda pun dapat berbagi pendapat, masukan ataupun kritik yang menurut anda kurang, salah atau kurang tepat sesuai pengetahuan anda. Ya silahkan saja agar kita sama-sama belajar untuk tambahan pengetahuan kita, bagi banyak orang dan tentunya dengan harapan dapat berguna di lingkungan kerja kita sehari-hari diatas kapal.

Sebagai orang mesin (Engine department) entah itu perwira mesin, oiler, wiper, mandor mesin, ETO atau bahkan mungkin orang deck: Master, CO, 2O dlsb sudah tentu pernah mendengar kata ini. Ya.. Stern Tube, tapi apakah kita tahu apa fungsi sebenarnya dari Stern tube itu sendiri? Atau mungkin bahkan bertanya dimana sebenarnya letak Stern tube itu berada di kamar mesin? Bagaimana juga dengan konstruksinya?

Seperti kita ketahui, ada beberapa bagian kapal yang terletak diluar lambung kapal. Bagian-bagian itu seperti Propeller (baling-baling), Rudder (kemudi). Propeller atau baling-baling merupakan bagian dari sistem propulsi kapal dimana saat bekerja akan berputar untuk menggerakkan kapal maju ataupun mundur. Baling-baling sendiri membutuhkan daya untuk dapat berputar yang didapat dari Main engine (mesin induk) yang terletak didalam kamar mesin. Ini artinya baling-baling yang berada diluar lambung kapal terhubung dengan mesin induk yang ada di kamar mesin. Keduanya dihubungkan dengan shaft propeller (Poros baling-baling). Gerak yang dihasilkan dari mesin utama diubah menjadi daya dorong ke baling-baling untuk mendorong/menggerakkan kapal melalui poros baling-baling tadi.

Jika dilihat dari beratnya, mesin utama dan baling-baling sangatlah berat, keduanya berada di dalam kapal tentu akan mempengaruhi stabilitas kapal. Nah.. untuk alasan inilah digunakanlah Stern Tube (tabung poros) dan poros baling-baling (Shaft propeller). Secara singkatnya, poros baling-baling digunakan untuk menghubungkan mesin kapal dan baling-baling. Tabung poros (Stern Tube) adalah tabung (lubang) sempit yang ada di struktur lambung kapal yang terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin dimana poros baling-baling melewatinya untuk menghubungkan mesin induk dan baling-baling.

Kita akan lanjut ke fungsi dari Stern Tube, kontruksinya serta apasaja yang ada pada Stern tube tadi. Namun sebelumnya, dibawah ini untuk mencegah salah pengertian kita akan singkat Stern Tube menjadi ST. Sedikit penjelasan; singkatan ST untuk arti dari peralatan lain dikapal juga ada yakni Stern Thruster. Stern Thruster biasanya digunakan untuk kapal-kapal offshore ataupun kapal penumpang misalnya yang berfungsi untuk memudahkan olah gerak kapal. Untuk kapal offshore berfungsi atau digunakan untuk on DP/DP mode (Dynamic Positioning).

Stern-Tube

Gambar Posisi Stern Tube

Beberapa fungsi dari ST sebagai berikut:
  • Melindungi poros dari benturan – benturan benda keras yang ada di sekitar poros.
  • Sebagai tempat dudukan bantalan poros baling-baling (shaft propeller).
  • Sebagai media pelumasan poros propeller.
  • Dengan bearing, ST juga berfungsi sebagai penyekat terjadi kebocoran.
Konstruksi ST

Konstruksi ST memiliki bentuk dan pengaturan khusus untuk akomadasi ruang poros baling-paling (shaft propeller), terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin. Berbentuk ramping hingga ke ujung buritan dan poros baling-baling juga berada di tingkat/tempat yang sama. Ujung depan ST ditunjang oleh aft peak bulk head dan ujung belakang dari ST ditunjang oleh rangka buritan kapal.

Konstruksi-Stern-Tube

Konstruksi Stern Tube, Bearing, Pelumasan dan Cooling.

Bearing ST, Bantalan dan Seal

Berat total dari poros baling-baling didalam ST diangkat atau ditunjang oleh bearing yang dikenal dengan ST bearing, sedangkan berat total dari ST dan bearing ditunjang oleh rangka kapal diujung buritan. Ada dua ST bearing atas/bawah (lower/upper bearing) yang menunjang ST tadi, fungsinya adalah agar poros baling-baling (propeller shaft) berputar dengan baik (smooth rotation). Pada ST terdapat juga sistem pelumasan oli dari/ke bearing yang berfungsi untuk melumasi bearing saat poros baling-baling berputar. Oli yang digunakan untuk melumasi bearing ST juga didinginkan oleh media air (fresh water).

Konstruksi-ST

Konstruksi Bearing ST dan Sealnya.

Selain bearing, part yang tidak kalah penting di ST adalah oil sealing glands yang dikenal dengan stern glands (ST Seal) yang berfungsi untuk mencegah masuknya air laut kedalam kapal atau sebaliknya mencegah keluarnya oli pelumas keluar/laut sehingga menyebabkan terjadinya polusi karena kebocoran oli dari pelumasan bearing ST tadi.

Kesimpulan
  1. Stern Tube adalah tabung (lubang) sempit yang ada di struktur lambung kapal yang terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin dimana poros baling-baling melewatinya untuk menghubungkan mesin induk dan baling-baling.
  2. Fungsi Stern Tube:
    • Melindungi poros dari benturan – benturan benda keras yang ada di sekitar poros baling-baling.
    • Sebagai tempat dudukan bantalan poros baling-baling (shaft propeller).
    • Sebagai media pelumasan poros propeller.
    • Dengan bearing, ST juga berfungsi sebagai penyekat terjadi kebocoran air laut masuk kedalam kapal atau kebocoran minyak pelumas keluar ke air laut sehingga terjadi polusi.
  3. Konstruksi ST memiliki bentuk dan pengaturan khusus untuk akomadasi ruang poros baling-paling (shaft propeller), terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin. Berbentuk ramping hingga ke ujung buritan dan poros baling-baling juga berada di tinkat/tempat yang sama. Ujung depan ST ditunjang oleh aft peak bulk head dan ujung belakang dari ST ditunjang oleh rangka buritan kapal.
  4. Terdapat bearing di ST (lower and upper bearing) yang berfungsi untuk menjaga poros baling-baling berputar dengan smooth.
  5. Terdapat sistem pelumasan oli maupun sistem pendingin di ST untuk melumasi bearing ST dan pendingin sebagai media pendingin oli yang melumasi bearing ST.

Secara garis besar inilah Stern Tube yang ada diatas kapal. Saran, kritik, tanggapan, masukan… apasaja silahkan anda dapat berbagi melalui kolom komentar dibawah. Semoga bermanfaat.

Referensi: Enginemechanis

Continue Reading

Featured

Wärtsilä RT-flex96C, Mesin Diesel Terbesar dan Powerfull di Dunia

Published

on

By

Wärtsilä-RT-flex96C,-Mesin-Diesel-Terbesar
Mesin Diesel Terbesar di Dunia

Indoseafarers.comWärtsilä RT-flex96C, Mesin Diesel Terbesar dan Powerfull di Dunia!. Container Ship atau Kapal Peti Kemas adalah kapal yang khusus digunakan untuk mengangkut peti kemas yang standar. Rata-rata kapal kontainer memiliki betuk bangunan yang lebar dan besar, walaupun tidak semua demikian. Ukuran panjangnya hingga mencapai 1,200 feet dan dapat membawa 10,000 to 16,000, 20-foot dalam sekali trip. Dengan bentuk bangunan kapal berbadan lebar, panjang dan berat ini tentu membutuhkan energi sebagai tenaga pendorong yang juga besar.

Di Indonesia sendiri, Container ship termodern pertama yang pernah ada dan berbendera Indonesia adalah KM Gloria Express yang panjangnya mencapai 120m dan lebar 17,8m, milik Perusahaan Pelayaran Samudra PT Gesuri Lloyd. Kapal ini berbobot mati 7.670 DWT, buatan Ship Building & Engineering Ltd yang disainnya dari Jerman, dengan pelayaran perdana 12 Mei 1980 dari Tanjung Priok-Hongkong-Busan(Korea)-Tokyo-Kobe-Osaka(Jepang)-Keelung(Taiwan) dan kembali ke Indonesia. Nakhoda pertama yang menahkodai kapal ini adalah Kapten Moniaga.

Gambar diatas adalah mesin diesel RT-flex96C two-stroke turbocharged low-speed yang digunakan di sebuah Kapal peti kemas (Container ship) yang menggunakan bahan bakar HFO. Di desain oleh Finlandia manufaktur Wärtsilä.

RT-flex96C memiliki 14 buah cylinder dengan tinggi 13.5 metres (44 kaki), panjang 26,59m (87 kaki) dan beratnya lebih dari 2.300 ton. Bagaimana dengan tenaganya? RT-flex96C two-stroke turbocharged low-speed dapat menghasilkan tenaga sebesar 80.080 KW atau setara dengan 107.390 Hours Power (HP). Mesin adalah mesin reciprocating terbesar di dunia.

Mesin diesel ini pertama digunakan pada tahun 2006 pada sebuah kapal Peti Kemas Emma Mærsk dimana menjadi yang terbesar saat itu. Desain RT-flex96C tampak seperti mesin Wärtsilä yang lama, yakni RTA96C yang menggunakan teknologi common rail dan bukan menggunakan camshaft, chain gear, fuel injection pump dan hydraulic actuators. Dengan demikian mesin diesel RT-flex96C besutan Wärtsilä ini dapat memberikan performa yang maksimal pada putaran rendah (RPM) dengan konsumsi bahan bakar serta emisi yang juga rendah.

Mesin diesel ini menggunakan Crosshead bearing sehingga piston dan rodnya bergerak secara vertikal, sedangkan untuk pelumasan terbagi menjadi dua yakni pelumasan untuk dinding cylinder dan pelumasan untuk crankcase dan systemnya berbeda. Ini dimaksudkan agar dinding cylinder memiliki pelumasan yang cukup guna melindungginya dari keausan serta untuk menetralkan asam yang terbentuk selama pembakaran dengan bahan bakar yang tinggi sulfur. Desain crosshead mengurangi tekanan/gesekan lebih pada piston kearah samping dimana menjaga diametral silinder liner sekitar 0,03 mm per 1000 jam.

Salah satu fitur unggulan dari mesin ini adalah efisiensi termal yang tinggi yang melebihi 50%. Ini berarti bahwa 50% dari panas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar diubah menjadi tenaga. Sebagai perbandingan, sebagian besar mesin pesawat hanya bisa mencapai efisiensi termal 25-30%. Pada pengaturan daya yang paling efisien, mesin diesel 14 silinder ini mengkonsumsi 1.660 galon bahan bakar minyak per jam atau sekitar 6283 liter.

RT-FLEX96C-Crankshaft

Crankshaft RT-FLEX96C

Parameter pokok dari mesin diesel Wärtsilä RT‑flex96C and RTA96C

  • Bore: 960 mm
  • Stroke: 2500 mm
  • Output MCR:  6030 R1 kW/cyl, bhp/cyl 8200
  • Displacement: 1,820 liters per cylinder
  • Engine speed: 22–102 RPM
  • Mean piston speed: 8.5 meters per second
  • BMEP at R1: 19.6 bar
  • Torque: 7,603,850 newton metres (5,608,310 lbf·ft) @ 102 rpm
  • Power: up to 5,720 kW per cylinder, 34,320–80,080 kW (46,680–108,920 BHP) total
  • Mass of fuel injected per cylinder per cycle: ~160 g (about 6.5 ounces) @ full load
  • Pmax: 153 bar
  • Mean piston speed at R1: 8.5 m/s
  • Number of cylinders: 6–14*
  • BSFC: at full load, R1: 171 g/kWh, g/bhph 126
  • Crankshaft weight: 300 tons

Continue Reading

Articles

7 Teknologi Untuk Mengurangi Konsumsi Bahan Bakar Kapal

Published

on

reduction-frictions-on-ship

Indoseafarers.com – Mengurangi konsumsi bahan bakar kapal serta emisi karbon atau emisi bahan bakar merupakan dua perhatian utama industri perkapalan saat ini. Bahkan untuk emisi bahan bakar, badan organisasi maritim dunia Internarional Maritime Organization (IMO) pun mengawasi secara ketat melalui MARPOL 73/78 PERATURAN TENTANG PENCEGAHAN PENCEMARAN UDARA DARI KAPAL dan juga peraturan kandungan 0,5% Sulfur bahan bakar yang akan diberlakukan pada 2020 mendatang.

Selama ini, telah banyak penelitian, pengembangan serta usaha yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan penghematan bahan bakar serta menekan kandungan emisi dalam industri maritim. Dari sisi sumber energi misalnya, penelitian serta pengembangan energi terbarukan atau energi alternatif terus didalami dari tahun ke tahun, sedangkan pada sisi teknologinya berbagai macam penelitian, perancangan, modifikasi serta pengembangan dan penyempurnaan terus dilakukan.

Bahan bakar Liquefied natural gas (LNG), adalah yang menjadi pilihan kebanyakan industri maritim saat ini untuk menekan biaya operasional. Teknologi Dual Fuel (DF) engine adalah pilihannya dimana mesin konvensional yang tadinya hanya menggunakan solar, HSD, HFO atau MDO sebagai bahan bakarnya dimodifikasi pada beberapa partnya sehingga dapat menggunakan dua jenis bahan bakar berbeda yakni gas atau LNG dan bahan bakar yang disebutkan diatas.

Bahan bakar LNG selain irit dan dapat mengurangi biaya operasional perusahaan pelayaran, LNG juga ramah terhadap lingkungan sehingga dapat memenuhi peraturan lingkungan yang ketat.

Pada artikel ini, kita akan melihat keduanya, yaitu beberapa metode yang paling umum digunakan serta beberapa teknologi terbaru yang belum lama dikenalkan dalam industri maritim untuk mencapai tujuan penghematan bahan bakar serta emisi rendah.

1. Air Lubrication

Sistem Air Lubrication atau pelumasan udara atau gelembung udara adalah salah satu metode untuk mengurangi hambatan dan gesekan (friction) antara lambung kapal dan air laut dengan menggunakan gelembung udara itu tadi. Metode ini dikenal dengan “teknologi gelembung atau buble technology“. Prinsip cara kerja metode ini cukup sederhana yaitu meniup atau memasok udara ke bagian bawah lambung kapal sehingga lapisan gelembung-gelembung kecil tercipta sehingga dapat membantu mengurangi gesekan antara lambung kapal dan air laut.

reduction-friction-on-ship

Buble Technology pada permukaan lambung bawah kapal

Mensuplai udara kebawah dasar permukaan lambung kapal dapat mengurangi hambatan permukaan lambung bawah kapal sehingga menciptakan efek hemat energi. Namun metode ini harus didukung dengan desain lambung bawah kapal yang tepat, sistem pelumasan udara atau buble technology diharapkan juga dapat mengurangi emisi CO2 antara 10-15% bersamaan dengan penghematan bahan bakar yang cukup signifikan. Hal ini dapat terjadi karena beban kapal dikurangi sedikit oleh metode tadi dari total beban yang diangkat oleh lambung kapal.

2. Fuel Saving Propeller

Teknologi Fuel Saving Propeller ini telah digunakan oleh Hyundai Heavy Industries (HHI) yang disebut dengan teknologi Hi-FIN yang terpasang pada hub baling-baling kapal. HI-FIN berputar mengimbangi putaran dari baling-baling sehingga meningkatkan efisiensi dari propulsi.

Teknologi ini telah dicoba pada kapal LNG Carrier milik HHI sendiri dengan bobot kapal DWT 162,000 ton. HHI menemukan bahwa metoda dan teknologi ini dapat menghemat bahan bakar hingga 2.5% dibandingkan dengan kapal berbobot sama yang tidak menggunakan HI-FIN. Jika, teknologi ini digunakan pada kapal kontainer 8,600 TEU, pemilik kapal dapat menghemat hingga 750.000 Dolar per tahun dan atau $19 juta Dolar untuk 25 tahun dihitung dari masa kapal kedepan.

Fuel-Saving-Propeller

Teknologi HI-FIN pada Propeller kapal

Hyundai Heavy Industries (HHI) telah berhasil menemukan metode cerdas ini dan hingga saat ini telah lebih dari 30 kapal telah menggunakan HI-FIN. HHI berharap lebih banyak lagi pemilik kapal yang menggunakan teknologi ini di kapal-kapal mereka dimana teknologi ini sudah dapat digunakan pada segala jenis kapal seperti VLCC, LPG carriers dan juga Kapal Container.

3. Sistem Onboard DC Grid

Sistem onboard DC Grid dikenalkan oleh ABB, diklaim bahwa teknologi ini adalah sistem propulsi efisien dan modern yang dapat membantu mengurangi bahan bakar hingga 27%. Sistemnya adalah electric, memiliki baling-baling dan pendorong mutakhir yang dapat dipilih dari berbagai desain yang tersedia. Sistem ini memiliki konverter modern untuk kontrol kecepatan kapal secara halus dan efisien dan menggunakan common rail injection yang dapat digunakan untuk bahan bakar gas.

Onboard-DC-Grid

Teknologi Onboard DC Grid pada kapal OSV Dina Star

Selain dapat mengurangi konsumsi bahan bakar, onboard DC Grid juga terbukti mengurangi tingkat kebisingan di kapal serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Sistem ini memungkinkan mesin kapal berjalan pada kecepatan variabel sesuai beban mesin yang telah diidetifikasi oleh sistem sehingga dapat menghemat bahan bakar. Onboard DC Grid telah berhasil diujicobakan oleh Pon Power yang bekerja sama dengan ABB pada kapal Dina Star, Offshore Supply vessel (OSV) milik perusahaan Myklebusthaug. Selain dapat mengurangi konsumsi bahan bakar, ujicoba tersebut juga menunjukkan pengurangan kebisingan di ruang mesin hingga 30 persen.

4. Low Loss Hybrid Energy System

Low Loss Hybrid (LLH) System adalah teknologi inovatif oleh Wartsila. Teknologi inovatif ini memanfaatkan sumber daya berbeda yang dikombinasikan dengan sebuah perangkat penyimpanan energi untuk mengoperasikan penggerak utama lebih dekat dengan kinerja optimalnya. Fitur utama dari sistem ini adalah kemampuannya untuk mengurangi beban sementara yang dihasilkan oleh mesin yang menyebabkan konsumsi bahan bakar meningkat dan juga emisi tentunya. LLH terintegrasi dengan unit kontrol inverter dan antarmuka pengguna dengan konvensional power management system.

Selanjutnya, dengan meningkatkan redundansi daya, sistem ini memungkinkan mesin beroperasi ke titik dekat optimal sesuai desainnya sehingga efisiensi tertinggi dapat dicapai dengan emisi rendah. Selain dapat mengurangi bahan bakar hingga 15%, Teknologi LLH memastikan pengurangan emisi gas buang secara substansial.

5. Modikasi Bulbous Bow Kapal

Memodifikasi Bulbous Bow Kapal terbukti dapat mengurangi konsumsi bahanobat bakar. Cara ini adalah cara efisien yang terbukti berhasil. Perusahaan pelayaran dunia seperti NYK group dan Maersk line menggunakan teknik ini dan sukses mengurangi konsumsi bahan bakar.

Bulbous Bow

Remodelling Bulbous Bow Kapal (kiri: Bulbous Bow Standart) (Kanan: Remodelling Bulbous Bow).

NYK group membuat bulbous bow energy-saving untuk kapal-kapal container mereka. Teknologi ini berhasil memangkas pemakaian bahan bakar dan mengurangi Karbon Dioxida (CO2) hingga 23% yang diuji coba selama setengah tahun sementara Maersk group dapat mengurangi cost bahan bakar hingga 8%. Dilain sisi, perusahaan pelayaran Clipper group yang berbasis di Copenhagen, Denmark bisa mengurangi pemakaian bahan bakar secara signifikan pada, kapal-kapal mereka dengan metode yang sama.

6. Teknologi Emulsi Bahan Bakar atau Fuel Oil Emulsion (FOE)

Emulsi bahan bakar adalah bahan bakar yang dicampur dengan air, kunci pencampurannya menggunakan surfactant. Teknologi ini dikembangkan oleh Blended Oil Solutions

Secara keseluruhan Emulsi bahan bakar adalah: cairan yang terbentuk dari campuran dua zat, zat yang satu terdapat dalam keadaan terpisah secara halus atau merata di dalam zat yang lain (seperti persenyawaan zat-zat bergetah atau berlemak dengan air).

Pada teknologi pengurangan pemakain bahan bakar di sektor maritim, pencampuran dua jenis zat ini adalah bahan bakar(solar, MDO, HSD dll) dan air, sedangkan dalam metode untuk mengurangi pemakaian bahan bakar di kapal, secara keseluruhan bahan bakar yang terbakar saat pemakaian di mesin kapal adalah bahan bakar yang tidak tercampur dengan baik atau tidak merata saat proses pencampuran (emulsi) tadi. Sedangkan bahan bakar yang tercampur dengan baik dan merata saat proses emulsi tidak ikut rerbakar. Dengan demikian maka tentunya pemakain bahan bakar akan lebih sedikit dan level emisi juga berkurang.

Uji coba yang dilakukan untuk teknologi ini menunjukkan konsumsi bahan bakar dan emisi berkurang.

7. Teknologi Tenaga Angin dan Tenaga Surya (Wind and Solar Power)

Teknologi wind power atau energi dari tenaga angin sudah banyak diketahui orang, teknologi ini juga banyak digunakan sebagai sumber energi alternatif yang menjanjikan terutama bagi dunia maritim. Sudah sejak lama teknologi ini di eksplorasi sebagai teknologi alternatif untuk megurangi biaya perusahan pelayaran terutama dalam hal pemakaian bahan bakar.

Sebuah ujicoba terhadap teknologi penggerak angin ini yang dilakukan oleh Norsepower mengkonfirmasi penghematan bahan bakar sebesar 2,6% menggunakan satu Sail Rotor kecil.

Selain itu, desain baru kapal ro-pax yang diluncurkan oleh Deltamarin yang menggunakan enam rotor sail terbukti berhasil dapat mengurangi konsumsi bahan bakar.

Ro-pax kapal Deltamarin

Ro-pax, desain kapal Deltamarin

Ada juga teknologi lain seperti Auxiliary Sail Propulsion System (ASPS) yang dikembangkan oleh Windship Technology Ltd yang menggunakan teknologi layar fixed wing. Dalam sistem ini dua tiang setinggi 35 meter dipasang masing-masing di geladak kapal yang dilengkapi dengan tiga sayap aerodinamis.

Tiang layar di desain dapat bergerak secara otomatis dan memanfaatkan kekuatan angin yang ada seiring kecepatan dan sudut angin yang berubah-ubah, sistem ini menggunakan lebih banyak tenaga angin ketimbang  tenaga mesin sehingga dapat menghemat bahan bakar.

Sama seperti energi angin, tenaga surya juga telah lama dieksplorasi secara luas sebagai sumber energi alternatif bagi kapal. Bahkan perusahaan solar power solutions

sudah merilis produk kapal bertenaga surya untuk penggunaan komersil.

Terlepas dari 7 teknologi dan metode yang disebutkan di atas, masih banyak penelitian lain dilakukan di bidang anti-fouling paints, software tools dan low fuel consumption marine engine.

Catatan: 7 Teknologi untuk mengurangi konsumsi bahan bakar kapal diatas adalah bukan daftar lengkap, namum metode dan teknologi ini yang paling sering digunakan oleh banyak industri marine serta metode dan teknologi terkini.

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Offshore News

Offshore Vessel

Featured News