Connect with us

Featured

IMO: Masih Banyak Wanita Dibutuhkan di Laut

Published

on

IMO-Logo

Indoseafarers.comIMO: Masih Banyak Wanita Dibutuhkan di Laut.

Kepala otoritas maritim dan kepala Organisasi Serikat Nations – International Maritime Organization (IMO) mengatakan bahwa wanita saat ini : untapped atau “belum termanfaatkan” secara maksimal di sektor laut. Hal ini disampaikan pada hari Sabtu (25/06/2016) dalam acara memperingati hari Pelaut sedunia, Day Of The Seafarers 2016.

International Maritime Organization (IMO) sendiri mendorong untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam industri pelayaran yang saat ini masih didominasi oleh laki-laki.

Sekretaris Jenderal IMO Kitack Lim mengatakan:

“The importance of women as a future source of (seafaring) human resources cannot be overstressed,”

Tanggal 25 Juni telah dipilih oleh badan khusus PBB untuk mempromosikan “aman, keamanan, ramah lingkungan, efisiensi, kelanjutan shipping melalui kerjasama” yang disuarakan melalui Konvensi Manila yang diadakan pada tahun 2010 diInternational Convention Center, Filipina.

Menurut data survey, wanita yang tergabung dalam dunia pelayaran tergolong masih sangat kecil, hanya 2% tenaga kerja maritim yang ada di dunia.

Lim mengatakan perusahaan pelayaran tidak bisa/boleh mengabaikan kekayaan dan kualitas Sumber Daya Manusia wanita dengan merekrut mereka bekerja sebagai Anak Buah Kapal di perusahaan-perusahaan pelayaran di dunia.

Dia hanyalah seorang Pelaut yang juga masih aktif berlayar hingga saat ini. Hobinya yang gemar menulis dan membaca berita-berita terbaru, terupdate serta terhangat seputar Pelaut membuatnya memiliki ide untuk membuat situs ini bersama beberapa temannya.

Featured

Persyaratan Diklat Pelaut ANT V dan ATT V di BP3IP

Published

on

Persyaratan-Mengikuti-Diklat-Pelaut-ANT-V-ATT-V-di-BP3IP-Jakarta

Indoseafarers.com – Dibawah ini adalah Persyaratan mengikuti diklat Pelaut ANT V dan ATT V di BP3IP Jakarta.

Persyaratan Untuk Mengikuti Diklat Pelaut ANT V

  1. Fotocopy ijazah STCW 1978 Amandemen 2010 yang  di legalisir asli (3 lembar)
  2. Fotocopy ijazah versi STCW 1978 Amandemen 1995 ANT-Dasar yang telah dilegalisir minimal 1 tahun sebelumnya (3 lembar)
  3. Fotocopy Sertifikat Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan (SPPK) sesuai sertifikat yang dimiliki ( 3 lembar).
  4. Surat kenal lahir / Akte Kelahiran (1 lembar)
  5. KTP atau tanda bukti diri lainnya yang sah ( 1 lembar)
  6. Memiliki masa layar yang diakui tidak kurang dari 24 bulan sebagai AB dek (Able Seafarer Deck/ABD) di kapal dengan ukuran GT.500 atau lebih (asli & foto copy 2 lembar)
  7. Memiliki surat keterangan bebas narkoba dari dokter
  8. Foto copy ijasah umum minimal SLTP/SLTA (3 lembar)
  9. Surat keterangan sehat mata dan telinga  oleh dokter yang ditunjuk BP3IP serta melampirkan pas photo ukuran 4×6 sebanyak (2 lembar)
  10. Berbadan sehat dengan surat keterangan kesehatan dari dokter (di BP3IP).
  11. Bagi calon peserta yang berasal dari pegawai pemerintah (PNS,TNI,POLRI,BUMN) wajib menyerahkan surat ijin belajar dari instasi masing-masing. ( 3 lembar)
  12. Foto Copy  sertifikat ketrampilan pelaut  (masing-masing 3 lembar)
  13. Melampirkan print out data pribadi dari www.pelaut.dephub.go.id
  14. Menunjukan semua dokumen asli kepelautan dan umum pada saat wawancara.
  15. Sertifikat Profisiensi : BST , SCRB , A F F , MFA , S.A .

Durasi Diklat selama 4 bulan

  • Biaya Formulir Rp. 150.000,-
  • Biaya Kesehatan Rp. 230.000,-
  • Biaya Diklat Rp. 10.800.000,-

Note: Untuk Update Persyaratan dan Biaya Diklat bisa lihat langsung di situs resmi BP3IP disini.

Persyaratan Untuk Mengikuti Diklat Pelaut ATT V

  1. Fotocopy ijazah STCW 1978 Amandemen 2010 yang  di legalisir asli (3 lembar)
  2. Fotocopy ijazah versi STCW 1978 AMK-PT yang telah dilegalisir minimal1 tahun sebelumnya (3 lembar)
  3. Fotocopy ijazah versi STCW 1978 Amandemen 1995 ATT- Dasar yang telah dilegalisir minimal 1 tahun sebelumnya (3 lembar)
  4. Fotocopy Sertifikat Pendidikan dan Pelatihan Kepelautan (SPPK) sesuai sertifikat yang dimiliki ( 3 lembar).
  5. Surat kenal lahir / Akte Kelahiran (1 lembar)
  6. KTP atau tanda bukti diri lainnya yang sah ( 1 lembar)
  7. Masa layar yang diakui tidak kurang dari 24 bulan sebagai AB mesin (Able Seafarer Engine) di kapal dengan mesin penggerak utama 750 KW atau lebih; ( asli & copy 2 lembar)
  8. Memiliki surat keterangan bebas narkoba dari dokter
  9. Foto copy ijasah umum minimal SLTP/SLTA (3 lembar)
  10. Surat keterangan sehat mata dan telinga  oleh dokter yang ditunjuk BP3IP serta melampirkan pas photo ukuran 4×6 sebanyak 2 lembar.
  11. Berbadan sehat dengan surat keterangan kesehatan dari dokter (di BP3IP).
  12. Bagi calon peserta yang berasal dari pegawai pemerintah (PNS,TNI,POLRI,BUMN) wajib menyerahkan surat ijin belajar dari instasi masing-masing. ( 3 lembar)
  13. Foto Copy  sertifikat ketrampilan pelaut  (masing-masing 3 lembar)
  14. Melampirkan print out data pribadi dari www.pelaut.dephub.go.id
  15. Menunjukan semua dokumen asli kepelautan dan umum pada saat wawancara.
  16. Sertifikat Profisiensi : BST , SCRB , A F F , MEFA , AS .

Durasi Diklat selama 4 bulan

  • Biaya Formulir Rp. 150.000,-
  • Biaya Kesehatan Rp. 230.000,-
  • Biaya Diklat Rp. 10.800.000,-

Note: Untuk Update Persyaratan dan Biaya Diklat bisa lihat langsung di situs resmi BP3IP disini.

Continue Reading

Breaking News

Implementasi Biodiesel B30 Resmi Sejak 23 Desember 2019

Published

on

Biodiesel B20, Biodiesel B30

Indoseafarers.com -- Program Biodiesel B30 sudah diresmikan penerapannya oleh Presiden Joko Widodo di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) COCO  3112802 di Jalan MT Haryono, Jakarta Selatan, pada Senin, 23 Desember 2019.

Tahukah kamu bahwa Indonesia masih bergantung pada energi berbasis Fosil? Ya, bahan bakar fosil seperti minyak bumi, batu bara dan gas alam masih menjadi sumber energi yang dominan di negeri ini.

Lalu bagaimana dengan persediaan energi fosil yang selama ini kita gunakan? Energi ini kian hari semakin berkurang, dan diperkirakan akan habis di tahun 2025.

Negara kita sedang dalam krisis energi, kebutuhan minyak mentah dalam negeri mencapai hingga 1,8 juta barel per harinya, sedangkan di tahun 2019, menurut data dari Trading Economics, produksi minyak bumi Indonesia berada pada angka 659 ribu bph (barel per hari). Ini berarti Indonesia harus mengimpor kekurangan kebutuhan per hari sebesar 1,1 juta barel.

Baca: Mengenal Biodiesel B20 Untuk Mesin Diesel di Kapal
Video: Ini Fakta-Fakta Tentang Biodiesel B20

Pertumbuhan konsumsi bahan bakar untuk minyak jenis solar tiap tahunnya meningkat sebesar 5 persen.

Konsumsi solar berdasarkan data Badan Pengelola Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pada tahun 2019 sepanjang bulan januari mencapai 7,56 juta kiloliter (KL) atau 52 persen dari kuota yang ditetapkan.

Dengan kondisi seperti ini, tentunya akan menghambat pembangunan di Indonesia. Jika demikian akankah Indonesia terus bertahan dengan bahan bakar Fosil? Dimana jumlah penduduk yang terus bertambah dari tahun ke tahun dan pertumbuhan ekonomi yang tentunya harus terus meningkat dan sejalan dengan kebutuhan energi Indonesia?

Negara kita tentunya perlu strategi yang tepat dan cepat untuk menanggulangi krisis energi yang memadai dan berkelanjutan.

Sebenarnya, potensi energi terbarukan di Indonesia tersebar di seluruh wilayah, terdapat beragam sumber daya energi yang dapat menjadi solusi ketahanan energi nasional, sumber daya alam terbarukan.

Ya, salah satunya adalah Biodiesel. Biodiesel dihasilkan dari bioenergi yang didapat dari organisme biologis atau bahan organik. Secara umum, bioenergi menghasilkan tiga jenis sumber energi, yaitu: biofuel (biodiesel, bioetanol), biogas, dan biomassa padat (serpihan kayu, biobriket serta residu pertanian). Bioenergi menghasilkan listrik, bahan bakar transportasi serta panas. Bioenergi inilah yang diharapkan dapat menggantikan sumber energi fosil yang merupakan sumber energi yang tidak terbarukan.

Setelah sukses dengan Biodiesel B20, Presiden Joko Widodo pada Senin (23/12/2019) telah meresmikan implementasi program biodiesel 30 persen ( B30) di salah satu SPBU yang ada di Jakarta. Biodiesel B30 merupakan Implementasi B30 Pertama di Dunia. Setelah ujicoba menggunakan berbagai jenis kendaraan besar maupun super besar dengan puluhan ribu kilometer jarak yang ditempuh hasilnya sangat memuaskan.

Berikut hasil ujicoba kendaraan yang menggunakan Biodiesel B30 yang dikutip dari kementerian ESDM:

  • 1. Persentase perubahan daya/power, konsumsi bahan bakar, pelumas, dan emisi gas buang relatif sama antara bahan bakar B20 dan B30 terhadap jarak tempuh kendaraan bermesin diesel;
  • 2. Opasitas gas buang kendaraan pada penggunaan bahan bakar B30 masih berada di bawah ambang batas ukur dan tidak menunjukkan kenaikan yang signifikan;
  • 3. Kendaraan berbahan bakar B0, B30 (MG Biodiesel 0.4%) dan B30 (MG Biodiesel 0.55%) dengan waktu soaking (didiamkan) selama 3, 7, 14, dan 21 hari dapat dinyalakan normal dengan waktu penyalaan sekitar 1 detik;
  • 4. Kendaraan baru atau yang sebelumnya tidak menggunakan biodiesel cenderung mengalami penggantian filter bahan bakar lebih cepat di awal penggunaan B30 karena efek blocking, namun sesudahnya kembali normal.

Bagaimana dengan Spesifikasi Biodieseil B30 yang harus dipenuhi? Diambil dari situs resmi Kemeterian ESDM, pemerintah menetapkan pula standar dan mutu (spesifikasi) dalam pelaksanaan uji coba B30 berdasar SNI 7182: 2015, antara lain:

  • 1. Massa jenis pada 40 derajat celcius harus memiliki 850 -- 890 Kg/m3
  • 2. Viskositas kinematik pada 40 derajat celcius harus memiliki 2,3 -- 6,0 mm2/s (cSt)
  • 3. Angka Setana menimal 51
  • 4. Titik nyala (mangkok tertutup) memiliki minimal 130 derajat celcius
  • 5. Korosi lempeng tembaga (3 jam pada 50 derajat celcius) harus nomor satu
  • 6. Residu Karbon dalam percontoh asli memiliki maksimal 0,05 %- massa; atau dalam 10% ampas ditilasi 0,3%- massa
  • 7. Termperatur distilasi 90% maksimal 360 derajat celcius
  • 8. Abu tersulfatkan maksimal 0,02%-massa
  • 9. Belerang maksimal 10 mg/kg
  • 10. Fosfor maksimal 4 mg/kg
  • 11. Angka asam maksimal 0,4 mg-KOH/g
  • 12. Gliserol bebas maksimal 0,02%-massa
  • 13. Gliserol total maksimal 0,24%-massa
  • 14. Kadar ester metil minimal 96,5%-massa
  • 15. Angka ioudium maksimal 115%-massa (g-12/100 g)
  • 16. Kestabilan oksidasi periode induksi metode rancimat 600 menit; atau periode induksi metode petro oksi 45 menit.
  • 17. Monogliserida maksimal 0,55%-massa
  • 18. Warna maksimal 3 dengan metode uji ASTM D-1500
  • 19. Kadar air maksimal 350 ppm dengan metode uji D-6304
  • 20. CFPP (Cold FIlter Plugging Point) maksimal 15 derajat celcius dengan metode uji D-6371
  • 21. Logam I maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14108/14109, EN 14538
  • 22. Logam II maksimal 5 mg/kg dengan metode uji EN 14538
  • 23. Total Kontaminan maksimal 20 mg/liter dengan metode uji ASTM D 2276, ASTM D 5452, ASTM D 6217

Uji coba, uji performa kendaraan, monitoring serta evaluasi biodiesel B30 pada kendaraan bermesin diesel telah selesai dilakukan pada awal November 2019 lalu. Pelaksanaan mandatori B30 di tahun 2020 ini, jadi mesin diesel kapal siap-siap menggunakan bahan bakar ini.

Biodiesel bahan bakar masa depan, Implementasi B30 di Indonesia merupakan yang pertama di dunia!

Continue Reading

Articles

Marhaban Ya Ramadhan Bagi Seluruh Pelaut Indonesia

Published

on

Ramadhan-di-tengah-Pandemi-Covid-19

Indoseafarers.com -- Pertama-tama kami dari tim situs Indoseafarers ingin mengucapkan Marhaban Ya Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa puasa 1441 Hijriah, mohon maaf lahir dan bathin bagi seluruh Pelaut Indonesia bersama keluarga dimana saja Anda berada saat ini.

Tahun ini merupakan tahun menantang bagi dunia dan terutama bagi kita para pelaut, perusahaan pelayaran, bagi negara maupun bagi dunia. Menantang ditengah-tengah Pandemi Covid-19, harga minyak dunia terjun bebas dan bahkan hingga minus, banyak pelaut yang dipulangkan akibat kapal tidak beroperasi, dan yang paling utama adalah disaat umat muslim di seluruh dunia menjalankan bulan suci Ramadhan.

Perusahaan-perusahaan pelayaran telah ketar-ketir dimasa menyebarnya Virus Corona di seluruh dunia, kebijakan-kebijakan yang diambil Pemerintah tentu sangat mempengaruhi perusahaan-perusahaan tersebut dan sudah tentu akan mempengaruhi juga karyawan laut atau pelaut.

Contoh sederhana di perusahaan saya sekarang, kebetulan perusahaan tempat saya bekerja adalah perusahaan dengan kapal-kapal support untuk pekerjaan lepas pantai (Offshore), kapal AHTS, AHT, PSV maupun kapal-kapal sejenis untuk pekerjaan lepas pantai. Saat ini, kapal-kapal ditempat saya bekerja sudah mulai nongkrong alias standby akibat tidak ada project. Kurang lebih saat ini sudah ada 6 kapal yang nongkrong akibat project lepas pantai di postpone entah sampai kapan. Bahkan ada salah satu kapal yang baru saja beroperasi untuk pekerjaan di selat Makassar milik ENI harus terpaksa dihentikan. Padahal baru saja sampai di lokasi pekerjaan. Dan sebentar lagi segera menyusul kapal-kapal lain yang kebetulan saat ini sedang beroperasi namun akan selesai masa kontraknya.

Selintas kabar berita yang saya dapat, diperkirakan masa-masa sulit ini akan berlangsung hingga… paling cepat bulan Agustus namun diperkirakan bisa lebih dan yang parahnya ada isu bahwa bisa jadi sampai tahun 2021 nanti.

Media-media Internasional bahkan sudah mulai menulis masa-masa kehancuran Offshore sudah datang saat ini. Bukan hanya offshore tapi juga perusahaan-perusahaan pelayaran Internasional seperti kapal pesiar dan masih banyak lagi. Proyek-proyek lepas pantai baik di laut dangkal (Shallow water) maupun laut dalam (Deep water) sudah berhenti beroperasi. Di Facebook, situs-situs besar yang saya ikuti rata-rata membagikan berita tentang kehancuran offshore, dunia perkapalan dan shipping industry.

Terlepas dari semua ini, saat ini marilah kita memfokuskan diri untuk menjalankan ibadah puasa, melakukan amalan-amalan Allah sehingga masalah Virus corona. Semoga ibadah puasa kita dilancarkan dan keberkahan Ramadhan dilimpahkan bagi kita semua.

Marhaban Ya Ramadhan, Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1441 H / 2020 M

Tonton Video Menarik Lainnya:

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Offshore News

Offshore Vessel

Featured News