Connect with us

Marine Tech

Aurora Expeditions Meluncurkan Desain Kapal Pesiar Ekspedisi

Published

on

Kapal-Ekspedisi-milik-Aurora-Eexpeditions

Indoseafarers.com – Aurora Expeditions, perusahaan pelayaran Australia mengungkap desain kapal pesiar expedisi yang diperuntukan untuk wilayah kutub. Ini adalah desain pertama perusahaan tersebut untuk kapal jenis ini.

Desain kapal bekerjasama dengan perusahaan shipbuilders SunStone Ships yang berbasis di Amerika Serikat, rencananya kapal es kelas 1A ini akan dilengkapi dengan spesifikasi kode polar terbaru.

Kapal dengan panjang 104,4 meter dan lebar 8,2 meter, Gross tonnage 7.400 ton, akan mampu mencapai kecepatan hingga 15 knot. Dirancang untuk pelayaran kapal pesiar ekspedisi, Aurora Expeditions mengatakan bahwa pihaknya berencana akan terus mengembangkan kapal ini.

“Dengan pengembangan kapal pesiar ekspedisi ini, kami akan tetap setia pada filosofi kami yaitu menambah pengalaman serta keterlibatan yang mendalam terhadap lingkungan di wilayah kutub, kami akan terus mencoba untuk mengurangi jumlah penumpang sehingga kami dapat mengunjungi lokasi-lokasi pendaratan yang belum terjangkau serta menjelajahi daerah-daerah baru dimana peraturan yang berlaku tidak membawa lebih dari 100 orang pada waktu yang sama, “Robert Halfpenny, Managing Director Aurora Expeditions, berkomentar.

“Kapal tersebut adalah yang pertama menggunakan teknologi X-BOW yang sudah dipatenkan, dimana memiliki kemampuan untuk menembus gelombang dengan stabilitas yang jauh lebih besar,” tambah Halfpenny.

Aurora Expeditions menjelaskan: teorinya, jika bow vessel naik keatas ombak dan kemudian jatuh keras ke permukaan air, pada kapal dengan teknologi Ulstein’s X-BOW akan mengurangi gerakan vertikal kapal yang disebabkan oleh ombak, dapat berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan berarti yang diakibatkan oleh ombak serta dapa mempertahankan kecepatan kapal. Dengan demikian kapal akan menggunakan sedikit bahan bakar dibandingkan dengan bow vessel kapal lama. Disamping menghemat bahan bakar, dapat juga membantu menghemat energi dibandingkan bow yang dirancang dengan busur konvensional.

Kapal pesiar ekspedisi yang belum diberi nama ini diperkirakan akan selesai pada musim di tahun 2019/2020.

Dia hanyalah seorang Pelaut yang juga masih aktif berlayar hingga saat ini. Hobinya yang gemar menulis dan membaca berita-berita terbaru, terupdate serta terhangat seputar Pelaut membuatnya memiliki ide untuk membuat situs ini bersama beberapa temannya.

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Articles

Stern Tube: Memahami Stern Tube di Kapal

Published

on

By

Indoseafarers.com – Mari berbagi… kali ini saya akan berbagi apa itu Stern Tube dan fungsi dari Stern tube itu sendiri yang ada diatas kapal. Disini bukan berarti saya lebih pandai dan tahu dari pembaca, tetapi marilah kita sama-sama belajar. Dibawah setiap berita ataupun artikel terdapat kolom komentar dimana anda pun dapat berbagi pendapat, masukan ataupun kritik yang menurut anda kurang, salah atau kurang tepat sesuai pengetahuan anda. Ya silahkan saja agar kita sama-sama belajar untuk tambahan pengetahuan kita, bagi banyak orang dan tentunya dengan harapan dapat berguna di lingkungan kerja kita sehari-hari diatas kapal.

Sebagai orang mesin (Engine department) entah itu perwira mesin, oiler, wiper, mandor mesin, ETO atau bahkan mungkin orang deck: Master, CO, 2O dlsb sudah tentu pernah mendengar kata ini. Ya.. Stern Tube, tapi apakah kita tahu apa fungsi sebenarnya dari Stern tube itu sendiri? Atau mungkin bahkan bertanya dimana sebenarnya letak Stern tube itu berada di kamar mesin? Bagaimana juga dengan konstruksinya?

Seperti kita ketahui, ada beberapa bagian kapal yang terletak diluar lambung kapal. Bagian-bagian itu seperti Propeller (baling-baling), Rudder (kemudi). Propeller atau baling-baling merupakan bagian dari sistem propulsi kapal dimana saat bekerja akan berputar untuk menggerakkan kapal maju ataupun mundur. Baling-baling sendiri membutuhkan daya untuk dapat berputar yang didapat dari Main engine (mesin induk) yang terletak didalam kamar mesin. Ini artinya baling-baling yang berada diluar lambung kapal terhubung dengan mesin induk yang ada di kamar mesin. Keduanya dihubungkan dengan shaft propeller (Poros baling-baling). Gerak yang dihasilkan dari mesin utama diubah menjadi daya dorong ke baling-baling untuk mendorong/menggerakkan kapal melalui poros baling-baling tadi.

Jika dilihat dari beratnya, mesin utama dan baling-baling sangatlah berat, keduanya berada di dalam kapal tentu akan mempengaruhi stabilitas kapal. Nah.. untuk alasan inilah digunakanlah Stern Tube (tabung poros) dan poros baling-baling (Shaft propeller). Secara singkatnya, poros baling-baling digunakan untuk menghubungkan mesin kapal dan baling-baling. Tabung poros (Stern Tube) adalah tabung (lubang) sempit yang ada di struktur lambung kapal yang terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin dimana poros baling-baling melewatinya untuk menghubungkan mesin induk dan baling-baling.

Kita akan lanjut ke fungsi dari Stern Tube, kontruksinya serta apasaja yang ada pada Stern tube tadi. Namun sebelumnya, dibawah ini untuk mencegah salah pengertian kita akan singkat Stern Tube menjadi ST. Sedikit penjelasan; singkatan ST untuk arti dari peralatan lain dikapal juga ada yakni Stern Thruster. Stern Thruster biasanya digunakan untuk kapal-kapal offshore ataupun kapal penumpang misalnya yang berfungsi untuk memudahkan olah gerak kapal. Untuk kapal offshore berfungsi atau digunakan untuk on DP/DP mode (Dynamic Positioning).

Stern-Tube

Gambar Posisi Stern Tube

Beberapa fungsi dari ST sebagai berikut:
  • Melindungi poros dari benturan – benturan benda keras yang ada di sekitar poros.
  • Sebagai tempat dudukan bantalan poros baling-baling (shaft propeller).
  • Sebagai media pelumasan poros propeller.
  • Dengan bearing, ST juga berfungsi sebagai penyekat terjadi kebocoran.
Konstruksi ST

Konstruksi ST memiliki bentuk dan pengaturan khusus untuk akomadasi ruang poros baling-paling (shaft propeller), terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin. Berbentuk ramping hingga ke ujung buritan dan poros baling-baling juga berada di tingkat/tempat yang sama. Ujung depan ST ditunjang oleh aft peak bulk head dan ujung belakang dari ST ditunjang oleh rangka buritan kapal.

Konstruksi-Stern-Tube

Konstruksi Stern Tube, Bearing, Pelumasan dan Cooling.

Bearing ST, Bantalan dan Seal

Berat total dari poros baling-baling didalam ST diangkat atau ditunjang oleh bearing yang dikenal dengan ST bearing, sedangkan berat total dari ST dan bearing ditunjang oleh rangka kapal diujung buritan. Ada dua ST bearing atas/bawah (lower/upper bearing) yang menunjang ST tadi, fungsinya adalah agar poros baling-baling (propeller shaft) berputar dengan baik (smooth rotation). Pada ST terdapat juga sistem pelumasan oli dari/ke bearing yang berfungsi untuk melumasi bearing saat poros baling-baling berputar. Oli yang digunakan untuk melumasi bearing ST juga didinginkan oleh media air (fresh water).

Konstruksi-ST

Konstruksi Bearing ST dan Sealnya.

Selain bearing, part yang tidak kalah penting di ST adalah oil sealing glands yang dikenal dengan stern glands (ST Seal) yang berfungsi untuk mencegah masuknya air laut kedalam kapal atau sebaliknya mencegah keluarnya oli pelumas keluar/laut sehingga menyebabkan terjadinya polusi karena kebocoran oli dari pelumasan bearing ST tadi.

Kesimpulan
  1. Stern Tube adalah tabung (lubang) sempit yang ada di struktur lambung kapal yang terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin dimana poros baling-baling melewatinya untuk menghubungkan mesin induk dan baling-baling.
  2. Fungsi Stern Tube:
    • Melindungi poros dari benturan – benturan benda keras yang ada di sekitar poros baling-baling.
    • Sebagai tempat dudukan bantalan poros baling-baling (shaft propeller).
    • Sebagai media pelumasan poros propeller.
    • Dengan bearing, ST juga berfungsi sebagai penyekat terjadi kebocoran air laut masuk kedalam kapal atau kebocoran minyak pelumas keluar ke air laut sehingga terjadi polusi.
  3. Konstruksi ST memiliki bentuk dan pengaturan khusus untuk akomadasi ruang poros baling-paling (shaft propeller), terletak antara ujung buritan kapal sampai ujung sekat kamar mesin. Berbentuk ramping hingga ke ujung buritan dan poros baling-baling juga berada di tinkat/tempat yang sama. Ujung depan ST ditunjang oleh aft peak bulk head dan ujung belakang dari ST ditunjang oleh rangka buritan kapal.
  4. Terdapat bearing di ST (lower and upper bearing) yang berfungsi untuk menjaga poros baling-baling berputar dengan smooth.
  5. Terdapat sistem pelumasan oli maupun sistem pendingin di ST untuk melumasi bearing ST dan pendingin sebagai media pendingin oli yang melumasi bearing ST.

Secara garis besar inilah Stern Tube yang ada diatas kapal. Saran, kritik, tanggapan, masukan… apasaja silahkan anda dapat berbagi melalui kolom komentar dibawah. Semoga bermanfaat.

Referensi: Enginemechanis

Continue Reading

Featured

Wärtsilä RT-flex96C, Mesin Diesel Terbesar dan Powerfull di Dunia

Published

on

By

Wärtsilä-RT-flex96C,-Mesin-Diesel-Terbesar
Mesin Diesel Terbesar di Dunia

Indoseafarers.comWärtsilä RT-flex96C, Mesin Diesel Terbesar dan Powerfull di Dunia!. Container Ship atau Kapal Peti Kemas adalah kapal yang khusus digunakan untuk mengangkut peti kemas yang standar. Rata-rata kapal kontainer memiliki betuk bangunan yang lebar dan besar, walaupun tidak semua demikian. Ukuran panjangnya hingga mencapai 1,200 feet dan dapat membawa 10,000 to 16,000, 20-foot dalam sekali trip. Dengan bentuk bangunan kapal berbadan lebar, panjang dan berat ini tentu membutuhkan energi sebagai tenaga pendorong yang juga besar.

Di Indonesia sendiri, Container ship termodern pertama yang pernah ada dan berbendera Indonesia adalah KM Gloria Express yang panjangnya mencapai 120m dan lebar 17,8m, milik Perusahaan Pelayaran Samudra PT Gesuri Lloyd. Kapal ini berbobot mati 7.670 DWT, buatan Ship Building & Engineering Ltd yang disainnya dari Jerman, dengan pelayaran perdana 12 Mei 1980 dari Tanjung Priok-Hongkong-Busan(Korea)-Tokyo-Kobe-Osaka(Jepang)-Keelung(Taiwan) dan kembali ke Indonesia. Nakhoda pertama yang menahkodai kapal ini adalah Kapten Moniaga.

Gambar diatas adalah mesin diesel RT-flex96C two-stroke turbocharged low-speed yang digunakan di sebuah Kapal peti kemas (Container ship) yang menggunakan bahan bakar HFO. Di desain oleh Finlandia manufaktur Wärtsilä.

RT-flex96C memiliki 14 buah cylinder dengan tinggi 13.5 metres (44 kaki), panjang 26,59m (87 kaki) dan beratnya lebih dari 2.300 ton. Bagaimana dengan tenaganya? RT-flex96C two-stroke turbocharged low-speed dapat menghasilkan tenaga sebesar 80.080 KW atau setara dengan 107.390 Hours Power (HP). Mesin adalah mesin reciprocating terbesar di dunia.

Mesin diesel ini pertama digunakan pada tahun 2006 pada sebuah kapal Peti Kemas Emma Mærsk dimana menjadi yang terbesar saat itu. Desain RT-flex96C tampak seperti mesin Wärtsilä yang lama, yakni RTA96C yang menggunakan teknologi common rail dan bukan menggunakan camshaft, chain gear, fuel injection pump dan hydraulic actuators. Dengan demikian mesin diesel RT-flex96C besutan Wärtsilä ini dapat memberikan performa yang maksimal pada putaran rendah (RPM) dengan konsumsi bahan bakar serta emisi yang juga rendah.

Mesin diesel ini menggunakan Crosshead bearing sehingga piston dan rodnya bergerak secara vertikal, sedangkan untuk pelumasan terbagi menjadi dua yakni pelumasan untuk dinding cylinder dan pelumasan untuk crankcase dan systemnya berbeda. Ini dimaksudkan agar dinding cylinder memiliki pelumasan yang cukup guna melindungginya dari keausan serta untuk menetralkan asam yang terbentuk selama pembakaran dengan bahan bakar yang tinggi sulfur. Desain crosshead mengurangi tekanan/gesekan lebih pada piston kearah samping dimana menjaga diametral silinder liner sekitar 0,03 mm per 1000 jam.

Salah satu fitur unggulan dari mesin ini adalah efisiensi termal yang tinggi yang melebihi 50%. Ini berarti bahwa 50% dari panas yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar diubah menjadi tenaga. Sebagai perbandingan, sebagian besar mesin pesawat hanya bisa mencapai efisiensi termal 25-30%. Pada pengaturan daya yang paling efisien, mesin diesel 14 silinder ini mengkonsumsi 1.660 galon bahan bakar minyak per jam atau sekitar 6283 liter.

RT-FLEX96C-Crankshaft

Crankshaft RT-FLEX96C

Parameter pokok dari mesin diesel Wärtsilä RT‑flex96C and RTA96C

  • Bore: 960 mm
  • Stroke: 2500 mm
  • Output MCR:  6030 R1 kW/cyl, bhp/cyl 8200
  • Displacement: 1,820 liters per cylinder
  • Engine speed: 22–102 RPM
  • Mean piston speed: 8.5 meters per second
  • BMEP at R1: 19.6 bar
  • Torque: 7,603,850 newton metres (5,608,310 lbf·ft) @ 102 rpm
  • Power: up to 5,720 kW per cylinder, 34,320–80,080 kW (46,680–108,920 BHP) total
  • Mass of fuel injected per cylinder per cycle: ~160 g (about 6.5 ounces) @ full load
  • Pmax: 153 bar
  • Mean piston speed at R1: 8.5 m/s
  • Number of cylinders: 6–14*
  • BSFC: at full load, R1: 171 g/kWh, g/bhph 126
  • Crankshaft weight: 300 tons

Continue Reading

Marine Tech

L’Astrolabe: Kapal Pertama di Dunia Yang Memenuhi Standar Regulasi IMO Tier III EIAPP

Published

on

L'Astrolabe

Indoseafarers.comL’Astrolabe, adalah kapal pertama di dunia (kapal logistik) yang memenuhi standar IMO Tier III EIAPP (Engine International Air Pollution Prevention), yakni peraturan IMO tentang pencegahan pencemaran udara internasional. Dalam Annex VI MARPOL 73/78 mengatur pencegahan udara dari kapal. Tier III mengatur tentang mesin diesel yang terpasang diatas kapal, gas emisinya (NOx) harus memenuhi regulasi IMO.

L’Astrolabe dibangun oleh PIRIOU (Perancis) untuk digunakan oleh Administrasi French Southern dan administrasi Antarctic Lands dalam mengangkut personil dan pasokan atau cargo ke stasiun penelitian Dumont d’Urville di Antartika.

Kapal ini dibangun menggunakan mesin diesel Wärtsilä 20 dikombinasikan dengan Wärtsilä NOR systems yang secara penuh memenuhi peraturan emisi gas buang IMO Tier III yang tercantum dalam Lampiran VI konvensi MARPOL 73/78. Sertifikasi IMO Tier III EIAPP dilakukan sesuai Skema B berdasarkan persyaratan IMO Resolution MEPC.198 (62) dan sertifikat EIAPP Tier III dikeluarkan oleh Bureau Veritas.

Secara general L’Astrolabe dibangun menggunakan machinery dari Wartsila yang terdiri dari empat mesin utama (Main engine) Wartsila 20, dua pitch propeller dan shaft lines Wartsila yang dapat dikontrol termasuk roda gigi (reduction gears), Wärtsilä NOR system serta tunnel thruster.

Wartsila-NOx-Reducer

Wartsila NOx Reducer (img credit: Wartsila.com)

nor-layout-diagram

NOR System Layout Diagram (img credit: Wartsila.com)

Selective Catalytic Reduction (SCR) saat ini merupakan sarana utama untuk pengurangan kandungan NOx  di mesin, Wärtsilä’s NOR system saat ini tersedia untuk bisa digunakan pada semua tipe mesin kecepatan sedang warstila. Sistem ini memungkinkan kapal mengurangi emisi NOx guna memenuhi regulasi IMO. Wärtsilä NOR system bekerja dengan cara membersihkan atau mengoptimalkan gas buang mesin untuk mengurangi emisi bahan bakar. Selain itu, sistem ini juga dapat mengurangi kebisingan serta efisiensi terhadap mesin. Wärtsilä menyediakan sertifikat IMO dan EPA Tier III untuk mesinnya yang dikombinasikan dengan Wärtsilä NOR system.


Selective catalytic reduction (SCR) adalah alat untuk mengubah oksida nitrogen, yang juga disebut NOX dengan bantuan katalis menjadi nitrogen diatomik (N2), dan air (H2O). Suatu reduktan gas, amonia atau amida berair, ditambahkan ke aliran gas buang dan diadsorpsi Ke katalis. Karbon dioksida, CO2 adalah produk reaksi bila urea digunakan sebagai reduktan.

Contoh-SCR-System-untuk-NOx-di-Boiler

Contoh-SCR-System-untuk-NOx-di-Boiler


“Kami dengan senang hati memberikan kombinasi antara mesin diesel dan sistem SCR dalam lingkup penawaran yang sama, dan kami bertanggung jawab penuh atas emisi gas buang, kinerja, dokumentasi, persetujuan hukum serta sertifikasi. Paket yang kami tawarkan seperti ini dapat memudahkan galangan kapal dan operator kapal, dan karena dipicu oleh regulasi IMO diharapkan dapat meningkatnya galangan kapal dan pemilik kapal menggunakan sistem ini. Mesin yang digunakan harus kompatibel dengan SCR, dan SCR harus sesuai dengan tujuannya. Kami senang dapat bekerja sama dengan Chantiers Piriou, ” Juha Kytölä, Vice President, Environmental Solutions, Wärtsilä Marine Solutions mengatakan.

Dilain sisi, Vincent Faujour, CEO PIRIOU mengatakan bahwa: “Untuk jenis kapal yang beroperasi di lautan yang penuh dengan es dan cuaca yang paling menantang, pemilihan mesin harus dilakukan secara hati-hati. Kami tahu dan menghargai kemampuan Wärtsilä serta pengetahuan teknis mereka, dan kami yakin bahwa kami telah membuat pilihan terbaik untuk kapal penting ini,”

L’Astrolabe memiliki akomodasi untuk 60 orang, kapasitas kargo 1400 metrik ton, dan dilengkapi dengan helideck yang cukup besar untuk menampung dua helikopter.

 

Continue Reading
Advertisement
Advertisement

Offshore News

Offshore Vessel

Featured News